Skip to content

Gambaran Agung Kesenian Jaranan Jawa Desa Kedungcangkring, Kec. Pagerwojo, Tulungagung

Seni memang tidak ada habisnya untuk diulas, sebab ia adalah hasil atau proses kerja hasil pemikiran manusia yang melibatkan kemampuan keterampilan, proses kreatif, kepekaan indra, sekaligus kepekaan hati dan pikiran. Kabupaten Tulungagung menyimpan beribu potensi dalam bidang kesenian rakyat, mulai dari Ketoprak Siswo Budoyo, Reog Kendang, Tiban sampai salah satu kesenian yang sangat merakyat yaitu Jaranan. Kali ini travelers sekalian akan saya ajak berpetualang ke sebuah desa yang terletak di balik pegunungan Waduk Wonorejo, betul desa tersebut bernama Kedungcangkring. Desa Kedungcangkring adalah salah satu wilayah di Tulungagung yang masih menjaga pakem kesenian Jaranan Jowo (Jawa) dengan istiqomah.

Lokasi Desa dan Sejarah Desa

Secara administratif Desa Kedungcangkring masuk dalam Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. Desa Kedungcangkring dikelilingi oleh pengunungan yang indah. Desa ini memiliki akses yang mudah dijangkau dari pusat kota Tulungagung. Mungkin bisa ditempuh kurang lebih 30 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor.

Sebelum mengulas lebih jauh mengenai Jaranan Jawa, izinkan saya mengulas terlebih dahulu sejarah Desa Kedungcangkring. Sejarah berdirinya Desa Kedungcangkring yang sudah dipercayai masyarakat secara turun-temurun dicatatkan dalam buku “Sejarah Desa/Kelurahan” terbitan Badan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung.

Konon dahulu ada sejumlah masyarakat yang terdiri dari Mangun Tari, Mairan, Makiah, Nggolo, Karso Drono, Karyontono, dan Bejan Sarinah. Kelompok ini mendiami lingkungan bernama Tepus. Disebut Tepus karena di tempat tersebut ada pohon Tepus yang sudah ada sejak dulu. Pohon tersebut dipercaya dihuni oleh mahluk halus yang sering menampakkan diri seperti manusia berkepala celeng (babi hutan). Daerah tersebut letaknya di sebelah barat balai desa saat ini. Saat ini lingkungan tersebut masuk dalam pengelolaan Perhutani.

Ada kelompok lain yang terdiri dari Kuselan, Bolo dan Tarmijah, mereka menempati lingkungan Klithikan. Nama Klithikan diambil dari rumput Klithikan yang banyak dijumpai di sana. Selain dua kelompok tadi, ada pula kelompok yang terdiri dari Musiyah, Ujud, Marinah Kasiran, mereka menempati lingkungan Watu Bale. Disebut lingkungan Watu Bale karena di tempat tersebut terdapat tiga batu raksasa seukuran bale (ruang tamu atau pendopo)

Lingkungan-lingkungan yang disebutkan di atas terletak di sebelah barat sampai selatan balai desa. Di sebelah barat balai desa dulu terdapat Pohon Cangkring di tepi kedung yang sangat dalam dan airnya sangat jernih sekalipun di musim hujan. Air dari kedung tersebut dan oleh masyarakat Tepus, Klithikan, Watu Bale, dan Njiru digunkan untuk memenuhi kebutuhan mandi dan minum.

Semasa penjajahan Jepang, di sebelah timur ditempati pelarian dari Mbegelan (Magelang) yang bernama Mbah Giah, beliau menempat bersama Karontono, Karmin, Kromoleso, Montayar, Warsontono, Cabuk serta Karsonawi. Lingkungan ini sekarang menjadi Dukuhan Krajan. Pada masa itu terjadi kelangkaan bahan pangan sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut masyarakat terpaksa saling mencuri. Untuk menghindari kekacauan yang lebih parah maka disepakatilah untuk didirikan sebuah desa bernama Kedungcangkring. Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1918.

Deskripsi Kesenian

Jaranan adalah sebuah pertunjukan kesenian tradisional di mana pemainnya menggunakan media tiruan hewan kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Jaranan sendiri di daerah Tulungagung sudah merakyat sejak lama. Salah satu wilayah di Tulungagung yang masih menjaga pakem kesenian jaranannya dengan istiqomah adalah Desa Kedungcangkring, lebih khususnya di Dusun Jati. Di wilayah tersebut mayoritas masyarakatnya bergiat dalam melestarikan kesenian jaranan yaitu Jaranan Jowo (Jawa). Kegiatan tersebut diwadahi dalam kelompok jaranan bernama “Turonggo Jati” yang dipimpin oleh seorang anak muda bernama Mas Irfan.

Ulasan ini selanjutnya akan bertitik tumpu pada kelompok jaranan tersebut. Saya menyakini dari berbagai sumber dan didukung oleh fakta di lapangan, kelompok Jaranan Turonggo Jati adalah kelompok kesenian Jaranan Jawa yang sudah berumur tua. Bukan hanya itu, kelompok jaranan ini juga masih menjaga keklasikan pakem Jaranan Jawa. Pasti ada alasan tersendiri kenapa hal tersebut masih dipertahankan di zaman modern seperti ini. Penasarankan? Yuk ikuti dengan seksama kisah perjalanan kami ini.

Pasti di antara travelers sekalian ada yang bertanya-tanya kenapa kesenian ini dinamakan Jaranan Jawa? Kesenian Jaranan Jawa merupakan sebuah kesenian jaranan yang berkembang  pertama kali di daerah Tulungagung. Istilah Jawa yang terdapat pada nama Jaranan Jawa merupakan simbol etnis masyarakat Jawa itu sendiri. Hal tersebut berdampak pada permainan Jaranan Jawa yang masih berpakem pada budaya Jawa. Yang unik, kesenian Jaranan Jawa selalu didampingi oleh dukun. Dukun berfungsi sebagai pengendali kesurupan atau bisa disebut sebagai juru gambuh. Bukan hanya itu saja, juru gambuh dalam permainan Jaranan Jawa juga berfungsi sebagai sosok penyambung lidah komunikasi dengan roh leluhur yang mendiami desa setempat. Komunikasi dengan roh leluhur bertujuan agar terbebas dari segala mara bahaya yang datang dari segala arah saat pementasan.

Jaranan Jawa menyimpan beribu keindahan. Kali ini saya akan mengulasnya berdasarkan versi Jaranan Turonggo Jati. Semoga ulasan sederhana ini bisa menjadi sumbangan ilmu bagi generasi muda bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar dan kaya akan peninggalan seni yang masih dipertahankan dari masa ke masa.

Kelompok Jaranan Turonggo Jati

Pada tanggal 20 April 2024 lebih tepatnya pada hari Sabtu, saya bersama tim berkesempatan untuk melihat secara langsung penampilan Kesenian Jaranan Turonggo Jati. Acara tersebut dilatarbelakangi oleh ayah Mas Irfan selaku sesepuh kelompok jaranan yang mempunyai nadzar/janji, jika nanti putranya mendekati waktu menikah akan digebyakkan pentas Jaranan Turonggo Jati.

Pagi itu saya berangkat tepat pukul 09.00 pagi dari wilayah Tulungagung kota. Perjalanan dari kota menuju Desa Kedungcangkring saya lalui dengan senang hati. Tidak perlu waktu lama saya dan tim sudah tiba di rumah Mas Irfan. Saat kami datang, ternyata sedang dilakukan persiapan pentas seperti penataan perangkat penggeras suara dan lain-lain. Saya dan tim menyaksikan dengan mata kepala sendiri para anggota jaranan gotong royong membawa alat musik ke lokasi pementasan. Saya benar-benar merasa kagum melihat para anggota jaranan dengan ikhlas membawa alat musik tersebut. Seakan-akan saya menyaksikan para pejuang kebudayaan yang sedang bersiap menjalankan misi agungnya.

Siang itu kami diterima dengan baik oleh keluarga besar Jaranan Turonggo Jati, secangkir kopi membuka obrolan kami. Salah satu sesepuh Jaranan Turonggo Jati mulai bercerita bagaimana kisah awal sejarah berdirinya perkumpulan Jaranan Turonggo Jati. Ternyata Jaranan Turonggo Jati sudah ada sejak tahun 1997. Pada saat itu latihannya tidak menggunakan alat komplet seperti sekarang melainkan menggunakan blarak/alat seadanya. Semakin lama Turonggo Jati semakin berkembang dan bisa membeli perlengkapan lainnya. Dahulu, saat gebyakan/peresmian penampilan pertama,  kelompok ini menarik kas tiap anggotanya sebanyak 20 ribu per orang. Dari uang kas tersebut akhirnya terkumpul banyak dan bisa membuat perkumpulan terus berkembang. Kelompok Jaranan Turonggo Jati pernah dipimpin oleh beberapa tokoh di antaranya adalah: Bapak Biran, Bapak Mugoh, Mbah Muri, Kembali ke Bapak Mugoh, kemudian Mas Irfan.

Dalam garis perjuangan berkesenian, Jaranan Turonggo Jati mempunyai pedoman bahwa dalam setiap penampilan harus bisa membuat orang yang menontonnya senang. Oleh karenanya orisinalitas pakem sangat dijunjung tinggi oleh kelompok ini. Demi memuaskan hasrat  pecintanya, walaupun hujan sekalipun penampilan kelompok ini akan tetap berlanjut.

Kelompok Jaranan Turonggo Jati ini menjadi tonggak tari Jaranan Jawa di sekitar Dusun Jati. Sesepuh menjelaskan kalau Turonggo Jati pernah melatih kelompok lain yang ada di Dusun Jati yang bernama Tri Darma Budaya. Bukan hanya di Dusun Jati saja, sesepuh juga menjelaskan bahwa dulu juga pernah melatih di luar daerah Kedungcangkring tepatnya di daerah Sepatan, Gondang.

Pentas Jaranan Turongo Jati

Setiap pertujukan seni pasti memiliki pakem/urutan tersendiri. Jaranan Turonggo Jati memiliki pakem yang harus dijalankan yaitu:

  1. Diawal dibuka dengan tari pasukan penunggang kuda sebanyak enam orang.
  2. Setelah itu dilanjutkan dengan tari kuda kepang lagi sebanyak dua orang (ini berlaku sebanyak tiga kali.)
  3. Selanjutnya dilanjutkan dengan penampilan tari Rampok Singo Barong.
  4. Terakhir ditutup dengan penampilan Rampok Celeng.

Jika diakumulasi, dalam pementasannya Jaranan Turonggo Jati menampilkan enam kali adegan.

Figur-figur yang dipentaskan dalam kesenian Jaranan Jawa memiliki arti atau maknanya masing-masing. Menurut sumber yang saya pahami saat dahulu pernah melakukan penelitian sebagai syarat kelulusan sarjana, makna dari figur-figur tersebut adalah sebagai berikut:

Kuda Kepang. Figur ini melambangkan seorang kesatria yang menaiki seekor kuda. Para kesatria mengenakan pakaian dan atribut yang indah serta mengenakan ikat kepala atau udeng yang menggambarkan mahkota/lambang kebesaran.

Barongan. Figur ini menggambarkan sikap yang semaunya sendiri dan tidak mau diatur. Namun dalam pementasan Jaranan Jawa, figur barongan ini diberi tali (sebagai pengendali).  Hal ini memiliki arti walaupun dia memiliki sikap yang tidak mau diatur namun harus tetap ada garis haluannya, sehingga mampu memahami mana yang benar dan salah.

Celengan. Figur ini menggambarkan babi hutan yang sangat ganas. Biasanya figur celeng saat adegan rampokan tidak bisa berbalik badan, makanya dia akan melompat agar bisa berbalik arah. Penampilannya gesit lincah dan sangat lihai meloloskan diri. Makna celeng bisa diartikan sebagai nyelengi/menabung, ini mengajarkan kepada penontonnya kalau suka menabung maka semunya akan berjalan dengan baik dan apa bila ada kebutuhan mendadak akan ada jalan keluarnya.

Siang itu, ada hal unik dalam pementasan Jaranan Turonggo Jati. Keunikannya terdapat pada para penari kuda kepang yang mengenakan kaca mata hitam. Sesuai tuturan Mas Dadang yang kami temui sebelum pementasan, pemakaian asesoris tersebut melambangkan kesederhanaan masyarakat desa yang apa adanya.

jaranan jawa tulungagungPemain kuda kepang mengenakan kacamata hitam.

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi pentas juga unik. Walaupun hanya menggunakan kendang, kenong berjumlah dua, gong dua, angklung, dan dilengkapi selompret, namun saat alat musik dimainkan secara bersamaan maka terciptalah candu kenyamanan bagi telinga yang mendengarnya. Semua pengrawit dan waranggono juga nampak rukun dalam harmoni, duduk berdampingan walaupun hanya beralaskan tikar sederhana.

Gambaran Agung Kesenian Jaranan Jawa Desa Kedungcangkring, Kec. Pagerwojo, Tulungagung 9

Pengrawit dan waranggono mengiringi pentas.

Penataan semua alat pentas di panggung lesehan menandakan pementasan akan segera dimulai. Saat itu kami melihat seorang dukun/juru gambuh berpakaian hitam berjalan mendekati tatanan tersebut. Dukun itu duduk bersila kemudian mulai membakar kukusan kemenyan. Ritual suguh sesaji pun dimulai. Dukun tersebut terlihat khusuk membacakan mantra. Seperti yang telah disinggung di atas, fungsi dukun bukan hanya sebagai pengendali pemain saat terjadi kesurupan, namun juga sebagai media penyambung lidah antara manusia dengan penguasa gaib yang ada di area pementasan. Itu semua dilakukan demi keselamatan pemain, yang mempunyai hajat, dan penonton.

Gambaran Agung Kesenian Jaranan Jawa Desa Kedungcangkring, Kec. Pagerwojo, Tulungagung 10

Seorang dukun sedang membaca mantra.

Setelah suguh sesaji usai, nampak dari ruang ganti para kesatria kuda kepang bersiap menunjukkan kebolehannya di panggung lesehan. Mereka keluar dengan begitu semangatnya untuk menghibur para penonton. Para pemain mengikuti irama musik dengan begitu luwes.

jaranan jowo tulungagung

Pemain kuda kepang menghibur penonton.

Tak lama kemudian sampailah pada sesi nadi. Saat itu hanya tinggal dua pemain saja yang mengikuti prosesi ini. Gerakan yang mulanya lemah gemulai berganti dengan gerakan khas kesurupan. Jogetan dan mata pemain yang merah menandakan kegarangannya. Makna ndadi disini sendiri adalah sebagai gambaran kesenangan yang melewati batas hingga membuat seseorang lupa akan segalanya.

Ndadi alias kesurupan ini juga bisa merembet kepada orang lain. Tatkala para pemain kuda kepang menuju ke arah penonton, sang tuan rumah juga ikut kesurupan. Seketika itu saya teringat pesan orang tua saat menonton jaranan “Le ojo lali lek delok jaranan ndak usah suwit-suwit engko dibabal sing jaran. Lek wes di babal engko awakmu iso melu kesurupan.”

Gambaran Agung Kesenian Jaranan Jawa Desa Kedungcangkring, Kec. Pagerwojo, Tulungagung 11

Mas Irfan (berbaju hitam) ikut merasakan kesurupan saat ia tertubruk oleh pemain kuda kepang yang sedang kesurupan.

Gambaran Agung Kesenian Jaranan Jawa Desa Kedungcangkring, Kec. Pagerwojo, Tulungagung 12

Proses penyadaran pemain yang kesurupan.

Saat ndadi, seolah-olah jiwa seluruh pemain dikuasai oleh makhluk gaib. Hal tersebut tercermin pada tindakan para pemain yang memakan bunga sesaji. Setelah cukup lama ndadi, biasanya para pemain akan diarahkan ke juru gambuh untuk disadarkan. Penyadaran pemain kuda kepang ini dilakukan oleh juru gambuh dengan membacakan mantra dan meniup telinga para pemain agar makhluk gaib yang menguasai raga pemain dapat dikendalikan. Adegan penyadaran pemain dari kesurupan ini memiliki arti jika mampu menguasai hawa nafsu maka semuanya akan indah. Biasanya setelah selesai kesurupan para pemain sudah bisa kembali merasakan nikmatnya nasi soto yang dihidangkan, bukan lagi menyantap kembang atau kemenyan hehehe. 😀

…

Sebenarnya masih banyak adegan dan atraksi yang disajikan dari Jaranan Turonggo Jati, namun karena terbatasnya waktu yang saya dan tim miliki, maka kami harus pamit saat itu juga. Berpulang sebelum pentas usai tidak menjadikan kami bersedih. Kerukunan yang terpancar dan sambutan hangat dari masyarakat Dusun Jati sudah menjadi obat manjur kami. Semoga di lain waktu kami bisa menyaksikan kesenian ini secara lengkap dari awal hingga akhir. Sedikit pesan dari kami, marilah kita jaga kesenian tradisional terutama Jaranan Jawa agar tetap lestari sampai anak cucu nanti. Amin 🙂


Writer: Deiki

Photographer: Deiki

Narasumber:

  • Sesepuh Jaranan Turonggo Jati
  • Mas Dadang (Pejuang  Kebudayaan Kedungcangkring)

Participants: Deiki, Feri dan teman-teman YouTuber Jaranan Tulungagung

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca