Skip to content

Piknik Asik ke Coban Pelangi

Perjalanan kali ini cukup ke Coban Pelangi saja. Kalau biasanya D’Trav mblusuk-mblusuk ke tempat yang sepi, kali ini cukup piknik saja. 😀

Coban Pelangi adalah air terjun yang terletak di ujung timur Kab. Malang, tepatnya di Desa Gubukklakah, Kec. Poncokusumo. Air terjun ini berjarak 27.2 km dari pusat Kota Malang, kalau dari Blitar ya sekitar 109.2 km. Karena jaraknya terlampau jauh dan cuaca Desember yang sering ujan, maka dalam perjalanan ini kami enggak motoran seperti biasanya. Kali ini kami naik libom. Meski rawan terjebak macet di Kota Malang, tapi ini lebih aman dan bisa mengirit tenaga.

Kami mengawali perjalanan dari basecamp D’Travellers di Jl Brigjend Katamso Blitar. Rute yang kami lalui adalah rute ke Malang via Karangkates. Rute ini kami pilih karena lebih landai jika dibandingkan dengan rute ke Malang via Ngantang. Jika diturut, rute yang kami lalui adalah sebagai berikut: Blitar – Wlingi – Kesamben – Karangkates – Kepanjen – Kota Malang. Sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Poncokusumo kami puter-puter kota dulu.

Dari Kota Malang kami langsung meluncur ke arah Poncokusumo. Rute yang kami lalui adalah Malang – Tumpang – Gubukklakah, Poncokusumo. Rute ini selain mengarah ke Coban Pelangi juga mengarah ke Gunung Bromo, oleh karena itu jalannya lumayan rame.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Malang akhirnya kami sampai di TKP. Air Terjun Coban Pelangi terletak di Wana Wisata Coban Pelangi. Lokasi wana wisata tersebut berada di pinggir jalan Malang – Bromo, sehingga hanya manyisakan sedikit ruang untuk parkir mobil. Untungnya kemarin masih ada tempat parkir mobil, coba saja kalau rame, pasti bakal bingung.

Setelah memarkir kendaraan kami langsung menuju loket. Disini kami dikenakan retribusi sebesar Rp. 6.000,- per orang. Setelah dari loket, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalan tanah yang sudah ditata sedemikian rapinya. Estimasi jarak yang harus di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 1 km. Ah deket 😀

papan keterangan coban pelangiSebelum berangkat baca petunjuk dulu 😀

track menuju coban pelangiMeski tak terlalu jauh tapi perjalanan ini cukup seru. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan lembah dan hutan yang masih alami. Track yang dilalui juga lumayan menantang, terutama saat harus manyeberangi jembatan bambu yang membentang di atas Sungai Amprong.

jembatan coban pelangiTak jauh dari jembatan, suara air terjun mulai terdengar. Tak lama kemudian Air terjun Coban Pelangi pun terlihat. Alhamdulillah.. 😀 Langsung deh kita bergegas.

road to coban pelangiWow. Air terjun Coban Pelangi sangat menakjubkan. Tingginya sekitar 120 m dan debitnya sangat deras. Hempasan airnya sangat kuat sehingga membuat area sekitar air terjun menjadi basah. Hembusannya yang menebarkan butir-butir air inilah yang menimbulkan fenomena pelangi di sekitar air terjun. Sayangnya pas kami kesana pelanginya tidak terbentuk. Cuaca di lokasi air terjun sedang berkabut sehingga cahaya matahari tidak dapat menerpa butir-butir air untuk membentuk pelangi. Meskipun demikian air terjun ini tetap keren 😀

air terjun coban pelangi malang

air terjun coban pelangiNgemeng-ngemeng kenapa ya air terjun ini bernama Coban Pelangi? Begini penjelasannya: Coban adalah diksi kata penduduk setempat untuk manyebut air terjun, ya seperti orang sunda yang manyebut air terjun dengan Curuk. Jadi Coban Pelangi aritinya Air terjun Pelangi. Memang kalau cuaca lagi cerah di sekitar air terjun ini akan terbentuk pelangi. Hal tersebut disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh deburan air dari air terjun. Kira-kira seperti itu 😀

travellers in coban pelangiCoban Pelangi ini tempatnya enak lho. Bener-bener cocok buat piknik. Lokasinya tidak terlalu sulit untuk dijangkau, tiketnya murah, dan fasilitasnya lengkap. Tempat parkir mobil ada. Tempat parkir motor ada di dalam. Junggle tracknya enak, dan di kanan-kirinya banyak dijumpai gazebo. Mushola ada, kamar mandi, tempat sampah, pokoknya komplit 😀 Tak salah kami memilih Coban Pelangi untuk tempat piknik. Hasilnya memuaskan. Lain kali boleh dicoba lagi.


Writer : Galy Hardyta

Participant : Bokir, Galy, Kcing, Mei, Lia, Wibi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *