Ruang Terbuka Hijau (RTH) biasanya identik dengan area yang rindang dan berbagai pernak-pernik fasilitas taman. Nah di wilayah Ngadilwih Kediri ada RTH yang memiliki konsep sedikit berbeda lho. Ini lah Taman Ngadiluwih. Selain kerapian tamannya, travelers sekalian juga dapat belajar sejarah di sini. Yup, di taman ini terdapat pula Monumen Patung Mayjen TNI Prof Dr Moestopo. Mari simak ulasan DTrav berikut, untuk lebih mengenal Taman Ngadiluwih.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Taman Ngadiluwih terletak di Jl. Prof. Dr. Moestopo No. 30, Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kab. Kediri. Taman ini terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Kediri dan Tulungagung. Lokasinya tak jauh pula dari pertigaan arah Pasar Ngadiluwih yang menjadi rute alternatif dari arah timur, Blitar misalnya. Lokasi taman ini juga hanya berjarak 700 m dari Stasiun Ngadiluwih. Lokasi taman ini sangat strategis sehingga mudah untuk dituju baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Fasilitas
Fasilitas yang tersedia di Taman Ngadiluwih cukup lengkap. Fasilitas standar seperti area bermain anak, area parkir, bangku taman, gazebo, musola, dan toilet tersedia dengan baik. Terdapat pula fasilitas olah raga seperti lapangan basket dan lapangan tenis. Di belakang monumen terdapat pula bangunan pendopo dan Rumah Baca Mayjen TNI Prof. Dr. Moestopo.
Sejarah
Taman Ngadiluwih diresmikan pada 18 Desember 2017 oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Prawansa. Monumen Patung Mayjen TNI Prof. Dr. Moestopo merupakan hibah dari Universitas Prof. Dr. Moestopo kepada Pemerintah Kabupaten Kediri. Monume patung tersebut sangat serasi dengan tata taman dan sejarah Ngadiluwih.
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Moestopo adalah salah satu pahlawan nasional pada masa revolusi Indonesia dan terus berjuang mengisi kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Ngadiluwih, Kab. Kediri pada 13 Juni 1913. Beliau adalah putra ke enam dari Raden Koesoemowinoto.
Jasa jasa beliau sangat banyak meliputi tiga bidang sekaligus, yakni kedokteran, militer dan pendidikan. Beliau mulai meniti karir kedokteran setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Kedokteran Gigi milik pemerintah kolonial Hindia Belanda atau School Tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT) di Surabaya. Berikut ringkasan kair kedokteran beliau:
- Tahun 1937 – 1941: Asisten Dosen Ortodonsiadan Konservasi Gigi Stovit Surabaya
- Tahun 1941: Wakil Dekan Stovit Surabaya dan Kepala Bagian Klinik Gigi CBZ (Rumah Sakit Umum) Surabaya.
Pada masa pendudukan Jepang karir kedokteran beliau masih berlanjut.
- Tahun 1942: Wakil Dekan Ika Daigagu Sikabu (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi) Surabaya; Asisten Dosen Bagian Bedah Mulut Rumah Sakit Tentara Jepang di Surabaya.
Masih di tahun 1942 beliau memutuskan masuk pelatihan militer Jepang (latihan kemiliteran Cudanco di Bogor yang tergabung dalam latihan PETA), satu angkatan dengan Soedirman dan Gatot Soebroto. Setelah lulus pelatihan, beliau mulai berkarir di dunia militer. Berikut ringkasan kair militer beliau:
- Tahun1943 – 1944: Bertugas sebagai Cudanco Buduran Sidoardjo.
- Tahun 1944 – 17 Agustus 1945: Daidanco (Komandan Batalyon) berkedudukan di Gresik.
Pada masa revolusi Indonesia perjalanan karir militer Prof. Dr. Moestopo terus berkembang.
- Tanggal 18 Agustus – 18 November 1945: Berpangkat Jenderal penuh dengan tugas sebagai Kepala BKR (Badan Keamanan Rakyat) Karesidenan Surabaya; Penanggungjawab Revolusi Jawa Timur dan Menteri Pertahanan Ad. Interim Republik Indonesia.
- November 1945 – 1946: Penasehat Agung Militer Presiden Republik Indonesia; Penasehat Jenderal Sudirman, Panglima Tinggi Angkatan Darat; Jenderal Mayor pada Kementrian Pertahanan Republik Indonesia; Komandan Resimen Siliwangi bandung Utara.
- Tahun 1947: Komandan Resimen Kratibo berkedudukan di Subang; Wakil Komandan Divisi Siliwangi Utara berkedudukan di Subang dan Bandung Utara; Komandan Brigade Jakarta Raya dan Purwakarta; Panglima Pasukan Penggempur (Stoot Divisi) merangkap Panglima Teritorial Jawa Timur dan Komandan Markas Besar Pertempuran (MBP) Jawa Timur.
- Tahun 1948: Berpangkat Kolonel (akibat rasionalisasi dengan jabatan Panglima Kesatuan Reserve Umum.
- Tahun 1949: Inspektur Infantri MBKD (Markas Besar Komando Djawa); Kepala Staf Special Duty MBKD di dalam Perang Gerilya clash II; Komandan Kesehatan AD/MBKD; Wakil Panglima MBKD.
Di Yogyakarta dan Jawa Barat nama beliau dikenal harum karena gebrakannya membentuk Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) yang mengambil personel dari lingkungan dunia hitam.
Setelah masa perang usai pada, selain masih aktif dalam dunia militer, beliau kembali melanjutkan karir kedokteran:
- Tahun 1951: Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat Merangkap sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang RSPAD Jakarta.
- Tahun 1957: Brigadir Jenderal/Wakil Ketua Front Pembebasan Irian Barat dan merangkat sebagai Deputi Special Duty MBAD
Karir dan pengabdian Prof. Dr. Moestopo terus berlanjut. Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat, beliau memutuskan terjun ke dunia akademik:
- Tahun 1957 – 1958: Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
- Tahun 1958: Mendirikan Dr. Moestopo Dental College yang akhirnya menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pada 1961
- Tahun 1961: Mayor Jenderal dengan jabatan: Penasehat Menteri Perguruan tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP); Pembantu Menteri PTIP
- Tahun 1961 – 1968: Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Pajajaran Bandung.
- Tahun 1961 – 1977: Guru Besar di Universitas Pajajaran Bandung, Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Pasundan Bandung dan beberapa akademi di Bandung.
Selain bidang Pendidikan, pada tahun 1964, Prof. Dr. Moestopo mendirikan lembaga Pusat Perdamaian Dunia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mewujudkan perdamaian dunia. Melalui lembaga ini beliau mengirim telegram yang ditujukan ke banyak pemimpin dunia, di antaranya Leonid Brezhnev, Paus Paulus II, Jimmy Carter, Ronald Reagan, Menachem Begin, Margaret Thatcher, Presiden Argentina, sampai pemimpin Iran dan Irak.
Di usia senja, Prof. Dr. Moestopo tak berhenti melakukan pengabdian di dunia pendidikan dan sosial-kemasyarakatan. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada 29 September 1986. Atas jasa-jasa dan pengabdian beliau kepada Republik Indonesia, pada tanggal 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 66/2007 TK.
Penghargaan-pernghargaan yang dianugerahkan kepada baliau sangat banyak baik dalam negeri maupun dari dunia internasional. Berikut ini penghargaan-penghargaan yang pernah beliau peroleh:
- Bintang Maha Putra Utama Republik Indonesia.
- Bintang Gerilya
- Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia.
- Satya Lencana Kemerdekaan 1945 Republik Indonesia
- Satya Lencana Prajurit Setia VII.
- Satya Lencana Sapta Marga.
- Satya Lencana Perang Kemerdekaan I.
- Satya Lencana Perang Kemerdekaan II.
- Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) I.
- Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) II.
- Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) III
- Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) IV.
- Satya Lencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI.
- Satya Lencana Satya dari UNPAD.
- Bintang Karya Bhakti dari UPDM(B)
- Satya Lencana Badan Keamanan Rakyat.
- Yogoslavenska Narodna Armija dari Pemerintah Yugoslavia (Non Blok)
- Um Internationale Fur Verdienste Partnershaft dari Pemerintah Jerman Barat (Liberal)
- Lion International (dalam bidang sosial).
Sumber:





