Skip to content

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung

Hari itu Sabtu 13 Juli 2024, DTrav berkesempatan mendokumentasikan sekaligus mengulas event budaya Suran Agung yang diadakan oleh Pemerintah Desa Sambijajar. Kegiatan event budaya tersebut begitu syarat makna. Berikut ulasan kami.

Lokasi dan Rute

Sambijajar merupakan sebuah desa yang terletak di Kec. Sumbergempol, Tulungagung. Desa ini memiliki beberapa potensi yang tersohor seperti industri rumah tangga penggilingan tebu dan budidaya ikan konsumsi (terutama ikan lele dan gurami). Desa Sambijajar terdiri dari tiga dusun yaitu Tanjung, Sadeng, dan Waringin.

Desa Sambijajar sangat mudah dijangkau dari pusat Kota Tulungagung. Kurang lebih hanya memerlukan waktu 30 menit untuk menjangkaunya. Dari pusat Kota Tulungagung perjalanan kami arahkan menuju Kampus UIN Satu Tulungagung, kemudian berlanjut ke arah Perempatan Gragalan. Dari perempatan tersebut perjalanan kami lanjutkan ke arah selatan sampai menjumpai balai Desa Doroampel. Perjalanan kami lanjutkan kembali ke arah selatan sekitar 400 meter hingga bertemu perempatan gardu. Dari titik ini tinggal berbelok ke timur, dan sampailah kami di Desa Sambijajar. Kegiatan Suran Agung yang kami tuju diselenggarakan di Punden Waringin Putih.

Lokasi Punden Waringin Putih ini tidak begitu  jauh dari Balai Desa Sambijajar. Dari balai desa kami berjalan ke arah timur pelan-pelan sampai bertemu perempatan yang di sisi selatannya terdapat gapura besar. Kami berbelok ke selatan hingga bertemu sebuah bangunan cungkup yang dihiasi pohon ringin kembar berjejer dua. Sampailah kami di Punden Waringin Putih.

punden wringin putih

Punden Wringin Putih.

Legenda

Dalam mengulas suatu lokasi, tidak lengkap rasanya tanpa menyinggung legenda asal usulnya. Desa Sambijajar memiliki legenda asal usul yang mengakar kuat dalam ingatan warganya. Legenda tersebut juga termuat dalam “Sejarah Desa/Kelurahan se Kabupaten Tulungagung edisi Revisi” terbitan Badan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung.

Alkisah pada masa kekuasaan  Sultan Agung dari Mataram ada seorang pujangga yang berilmu tinggi dan menguasai berbagai ilmu kanuragaan, ilmu agama, hingga falsafah jawa sangkan parane dumadi. Tokoh tersebut bernama Ki Ageng Tirtomoyo. Ia memohon izin kepada Baginda Sultan untuk mengembara ke arah selatan atau brang kidul.

Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan pujangga lain bernama Ki Ageng Dipokusumo dari tlatah Pengging. Di Pengging selama satu tahun mereka mendirikan padepokan yang diberi nama Poncodarmo. Di padepokan ini mereka mengajarkan pendidikan budi pekerti yang luhur, welas asih kepada sesama makhluk Tuhan. Inti amalannya adalah sebagai berikut:

    1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
    2. Taat kepada para Nabi dan Rasul
    3. Taat kepada penguasa
    4. Taat kepada bangsa dan tanah air
    5. Taat kepada orang tua

Setelah satu tahun,  mereka berdua melanjutkan pengembaraan ke arah selatan, kemudian bertemu Kyai Pacet dari Padepokan Bonorowo. Mereka saling bertukar pengetahuan di Padepokan Bonorowo selama enam bulan.

Setelah enam bulan, mereka berdua mohon pamit kepada Kyai Pacet. Sebelum berpisah Kyai Pacet berpesan agar dimanapun berada Ki Ageng Tirtomoyo dan Ki Ageng Dipokusumo dapat mengajarkan ilmu yang dimiliki sesuai kemampuannya. Tak lupa Kyai Pacet juga memberi bekal benih pohon. Kyai berpesan agar benih itu ditanam di mana pun mereka menetap.

Ki Ageng Tirtomoyo dan Ki Ageng Dipokusumo melanjutkan penggembaraan hingga menjumpai hutan rimba yang penuh bahaya. Jalmo moro jalmo mati, banyak ilo-ilo banaspati wewe gombel menghadang di jalan. Hutan tersebut banyak ditumbuhi Pohon Suru raksasa yang dililit pohon merambat yang menadah ke langit. Akhirnya hutan tersebut dijuluki sebagai Hutan Songgolangit. Hutannya begitu lebat, tanahnya berlumpur, dan banyak sumber air. Akhirnya di tempat ini lah Ki Ageng Tirtomoyo membuka hutan (babat alas). Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 10 Juni 1860, hari Selasa Kliwon Anggoro Kasih.

Ternyata hutan tersebut dihuni pertapa sakti yang menganut ilmu hitam, mereka adalah Ki Ageng Secorogo dan Ki Ageng Warok Kalong. Ada pula siluman ular namanya Nogo Suro dan Nogo Saketi yang juga menghuni wilayah hutan tersebut.

Ki Ageng Secorogo dan Ki Ageng Warok Kalong serta kedua ular siluman tersebut tidak mau pergi dan selalu menyemburkan hawa maut. Akhirnya Ki Ageng Tirtomoyo minta bantuan kepada Ki Ageng Pengging Sepuh/ Ki Ageng Suryo Kusumo dan Ki Pandan Alas dari Mataram yang memiliki aji sosro birowo dan aji raga badra serta piawai dalam ilmu agama untuk menangani permasalahan tersebut. Ki Ageng Pacar Pandena dari Solo dan Ki Ageng Sarpotejo dari Gunung Wilis juga turut membantu menangani ular siluman.

Berkat bantuan tersebut Ki Ageng Secorogo dan Ki Ageng Warok Kalong beserta para siluman dapat dikalahkan. Ki Ageng Warok Kalong menyerah dan kembali ke hutan memohon kepada Ki Ageng Tirtomoyo untuk menyempurnakan sukma kedua siluman ular yang telah terbunuh ke dalam senjata pusaka. Ki Ageng Tirtomoyo menyanggupinya dengan membuat keris Nogo Rangsang dan Nogo Pekik. Kedua pusaka tersebut dipergunakan untuk membantu membabat alas.

Wilayah yang baru dibuka ditanami biji-bijian pemberian Kyai Ageng Pacet dari Bonorowo. Setelah ditanami, benih itu tumbuh dengan subur. Terdapat lima pohon yang tumbuh dari benih tersebut yaitu: Pohon Beringin, Pohon Salam, Pohon Sambi berjumlah dua buah, Pohon Gempol, dan Pohon Kelor.

Dua pohon Sambi tumbuh sama indahnya. Dikemudian hari, keberadaan sepasang pohon Sambi itu diambil sebagai nama wilayah. Ini lah legenda asal-usul bumi perdikan Sambijajar (sekarang Desa Sambijajar).

Semasa hidupnya Ki Ageng Tirtomoyo dan Ki Ageng Dipokusumo mendirikan padepokan Cipto Manunggal Roso/ Pedepokan Wringin Jajar (sekarang Punden Wringin Jajar) di tempat ini. Padepokan tersebut mengajarkan ilmu falsafah jawa. Padepokan ini memiliki banyak murid di antaranya adalah Ki Ageng Sabuk Ulu atau Ki Ageng Jogorogo dari Ponorogo, Ki Ageng Brojonolo dari tanah Dayak, Ki Ageng Hasan Munadi dari Sampang, Kiyai Hasan Ngariman dari Pengging, Ki Ageng Wongserejo dari Pati, Ki Ageng Posong dari Ponorogo, dan Ki Ageng Musdimin dari Madura. Bumi perdikan Sambijajar semakin hari semakin subur, segala yang ditanami hidup dengan sempurna.

Pada hari Jum’at Kliwon bulan Suro atau tanggal 12 September 1865 Masehi, Ki Ageng Tirtomoyo menghembuskan nafas terakhir, mininggal dunia dalam keadaan tenang, Islam, dan iman. Beliau dimakamkan di sebelah selatan Padepokan Waringin Putih. Sepeninggal Ki Ageng Tirtomoyo, Ki Ageng Dipokusumo kembali ke Pengging, Ki Ageng Posong kembali ke Ponorogo, Ki Ageng Musdimin kembali ke Madura. Padepokan menjadi sepi.

Suatu hari datang seorang pengembara dari Ponorogo bernama Ki Ageng Dwijolengkoro. Atas saran para sesepuh, Ki Ageng Dwijolengkoro diminta memimpin Padepokan Waringin Putih dan menjaga bumi Sambijajar. Selama kepemimpinannya, Ki Ageng Dwijolengkoro mengadakan seni jaranan dan reog. Kesenian tersebut menjadi tradisi Desa Sambijajar hingga kini, jaranan dipentaskan setiap bulan Suro. Menurut mitos yang berkembang, jika warga tidak menggelar kesenian jaranan bisa memicu pagebluk atau wabah penyakit .

Ki Ageng Dwijolengkoro meninggal dunia pada tanggal 20 November 1870 Masehi. Sepeninggalnya, datang sepasang orang tua bernama Ki Gunotirto dan Nyai Komisah. Mereka berdua lah yang akhirnya menurunkan keturunan di bumi Sambijajar.

Deskripsi Event

Suran Agung

Kembali ke cerita  perjalanan. Mendekati lokasi punden, suara gamelan jaranan mulai terdengar sayup-sayup. Suara gemelan tersebut merupakan penanda kegiatan Suran Agung telah dimulai. Nampak dari kejauhan lokasi punden sangat ramai pengunjung.

Di Punden Wringin Putih kami dipandu oleh kuncen (juru pelihara), beliau bernama Pak Hasyim. Berdasarkan penuturan Pak Hasyim, Suran Agung sudah dimulai sejak pagi dengan rangkaian acara selamatan warga bersama perangkat desa; dilanjutkan dengan pentas kesenian jaranan di siang hari; dan ditutup dengan acara shalawatan di malam harinya. Rangkaian kegiatan di Suran Agung ini merupakan media mempererat tali persaudaraan antar warga.

Suran Agung adalah adat budaya setempat dalam memeriahkan bulan Suro (tahun baru Jawa/ Islam). Suran Agung juga merupakan simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus nguri-nguri tradisi leluhur. Jika kegiatan ini tidak dilakukan atau disengaja dilupakan, warga percaya akan ada sebuah musibah atau bala yang terjadi.

Punden Wringin Putih

Beliau melanjutkan penuturannya mengenai Punden Wringin Putih. Punden ini terletak di Dusun Waringin. Pak Hasyim memperkirakan jika usia punden ini sudah ratusan tahun.

Ikon punden ini adalah pohon Beringin raksasa dan pohon Sambi di sebelahnya. Keberadaan pohon Sambi ini lah yang menjadi latar nama Desa Sambijajar (sambi yang berjejer/berjajar). Sayang sekali pohon Ringinnya terbakar hebat pada tahun 2019 silam. Semuanya hangus tak tersisa. Untuk mempertahankan ikon Punden Wringin Putih, warga sepakat menamam kembali pohon Beringin yang baru. Sementara itu pohon Sambi sempat ikut terbakar, kini hanya tinggal batangnya saja.

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung 12

Pohon Sambi.

Di bawah naungan pohon Beringin terdapat tempat meletakan sesaji bagi warga yang nyadran. Biasanya warga yang nyadran di lokasi ini memiliki hajat atau keinginan pribadi.

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung 13

Sesaji.

Di sekeliling lokasi punden terdapat pagar keliling (bangunan baru) yang didesain megah bak pagar keraton. Pagar punden didesain sedemikian rupa karena warga setempat meyakini bahwa dahulu di tempat ini berdiri sebuah keraton. “Yo lek kene i critane wong sing paham, pancen kene ki Keraton. Lha seng babat Deso Sambijajar Dusun Waringin i ninggale yo neng kono. Neng sor sambi. Sambi kui sing wohe cacil kae,” tutur Pak Hasyim.

Dahulu pintu gerbang punden berada di sebelah utara namun sekarang dipindah di sebelah timur. Saat ini di sisi utara tetap disediakan jalan kecil sebagai pengingat bahwa dahulu pernah ada pintu masuk dari sebelah sana.

Penjelasan Bapak Hasyim sangat membantu kami mengenal Punden Waringin Putih secara lebih rinci. Setelah memperoleh keterangan yang cukup, kami lanjut menyaksikan kesenian jaranan dari Kelompok Jaranan Jawa Satrio Wahyu Mudho.

Kesenian Jaranan

Selama menyaksikan pentas seni jaranan, terjadi diskusi di antara kami. Khama sempat menanyakan seputar sesi adegan untuk pementasan jaranan di Sambijajar ini. Deiki menjelaskan bahwa jumlah sesi tergantung jenis jaranan apa yang sedangkan dipentaskan. Dalam pengamatannya, jaranan yang dipentaskan tersebut adalah Jaranan Jawa versi Kedirian. Nah untuk perincian sesinya adalah sebagai berikut: adegan pertama dibuka dengan keluarnya 6 pasukan berkuda; sesi dilanjut dengan adegan perang Celeng Srenggi; dilanjutkan lagi dengan adegan hadirnya rombongan Bantarangin yaitu Adipati Ganongan dari Ponorogo; dan sesi ditutup dengan perang Singo Barong. Yang unik dari kesenian Jaranan Jawa versi Kedirian adalah adanya hiburan tambahan berupa orkes dangdut. Hiburan tambahan ini membuat acara jaranan siang itu semakin ramai. Warga yang hadir benar-benar terhibur.

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung 14

Orkes dangdut dalam kesenian jaranan.

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung 15

Antusiasme warga menyaksikan pementasan kesenian jaranan.

Sholawatan

Tradisi Luhur Suran Agung di Punden Wringin Putih Desa Sambijajar Tulungagung 16

Sholawatan.

Puncak acara Suran Agung di malam hari dimeriahkan dengan kegiatan sholawatan dari Grup Sholawat Jaljalut Trenggalek.

…

Suran Agung merupakan adat tradisi luhur yang syarat makna. Beruntung tradisi ini masih dipertahankan oleh warga Desa Sambijajar. Semoga event budaya Suran Agung ini terus lestari.

Terimakasih untuk senyuman dan sambutan hangat warga masyarakat Sambijajar kepada kami, terlebih untuk Bapak Hasyim yang sudah dengan ikhlas menemani perjalanan kami kali ini. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.


Writer: Riko

Narasumber: Bapak Hasyim (Juru pelihara Punden Waringin Putih)

Sumber: Sejarah Desa/Kelurahan se Kabupaten Tulungagung edisi Revisi

Participants: Deiki, Khama, Riko

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca