Situs Cagar Budaya didefinisikan sebagai lokasi, baik di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Berdasarkan definisi di atas, tentunya bentuk dari situs cagar budaya dapat beraneka ragam. Beberapa situs secara tradisional dilestarikan masyarakat dalam bentuk punden, seperti pada Punden Mbah Noyokusumo di Nganjuk.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Punden Mbah Noyokusumo dikenal juga dengan sebutan Punden Jogomerto karena secara administratif terletak di Desa Jogomerto, Kec. Tanjunganom, Nganjuk. Letak punden ini berada di antara pemukiman penduduk.
Untuk menuju Punden Desa Jogomerto dari arah Nganjuk, silakan telusuri Jalan Raya Nganjuk – Surabaya hingga di Baron. Selanjutnya, ikuti petunjuk arah ke Tanjunganom. Tak lama kemudian kalian akan memasuki wilayah Desa Jogomerto. Lanjutkan perjalanan sampai menjumpai SDN 1 Jogomerto di kanan jalan. Beberapa meter setelah SD terdapat gang kecil ke kanan (ke arah barat), ikuti gang tersebut sampai terlihat bangunan masjid. Sebelum masjid tersebut terdapat gang kecil ke kanan. Ikuti gang tersebut mentok, kalian akan tiba di lokasi punden.
Lokasi punden ditandai dengan gapura.
Deskripsi Situs
Punden Noyokusumo atau Punden Desa Jogomerto menyimpan beberapa benda cagar budaya (BCB) masa klasik. Saat ini BCB yang masih bisa disaksikan dengan jelas adalah sebuah yoni dengan kondisi yang telah rusak. Bagian cerat telah patah, namun beberapa pahatan pelipitnya masih terlihat.
Yoni Jogomerto.
Yoni merupakan komponen peribadatan umat Hindu yang menggambarkan perwujudan Dewi Parwati. Dewi Parwati adalah istri/cakti dari Dewa Siwa (Mahadewa). Umumnya yoni berbentuk persegi, bercerat, dan disertai lubang persegi di tengahnya. Lubang ini merupakan tempat Lingga sebagai perwujudan Dewa Siwa. Keberadaan yoni ini memunculkan dugaan bahwa corak keagamaan BCB di Punden Desa Jogomerto ini adalah Hindu.
BCB lain pernah ada, namun saat ini sudah tidak terlihat. Berdasarkan keterangan warga setempat, terdapat bata bata kuno yang ditanam di dalam makam yang ada di lokasi punden. Bata kuno tersebut ditanam kembali saat dilakukan perbaikan makam. Dulunya makam makam yang ada di lokasi punden ini tersusun dari bata kuno.
Makam-makam di Punden Desa Jogomerto.
Total terdapat lima makam di area Punden Desa Jogomerto. Dua di antaranya merupakan makam yang paling disakralkan, yaitu makam tokoh Mbah Noyokusumo dan Nyai Wulandari. Dua makam tersebut dilindungi bangunan cungkup bersama fragmen yoni yang diulas di atas. Pada bagian muka cungkup dihiasi dengan patung-patung, di antaranya patung harimau. Pembangunan patung tersebut berkaitan dengan mitos setempat yang mempercayai adanya harimau gaib di sekitar lokasi punden.
Bangunan pelindung Makam Mbah Noyokusumo dan Nyi Wulandari.
Tokoh Mbah Noyokusumo dalam cerita setempat dianggap berkaitan dengan tokoh Ki Ageng Keniten yang makamnya berada di Kujon Warujayeng, tak jauh dari Jogomerto. Dalam cerita rakyat, Ki Ageng Keniten dikenal sebagai pelarian dari Majapahit akhir.
Latar sejarah dari benda benda cagar budaya di Punden Jogomerto ini masih belum dapat dipastikan. Sumber sejarah tertulis terdekat dari situs ini adalah Prasasti Hering tahun 856 Saka (934 Masehi) yang pernah ditemukan di Kujon dan saat ini di simpan di Museum Nasional. Meskipun demikian, belum dipastikan apakah BCB di Punden Desa Jogomerto ini sejaman dengan prasasti tersebut. Banyak kemungkinan yang terbuka terkait latar sejarah BCB di Punden Noyokusumo.
Writer: Galy Hardyta
Selftraveling




