Skip to content

Prosesi Upacara Ritual Siraman Sedudo

Siraman Sedudo merupakan event budaya andalan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Event ini diadakan setiap bulan Suro (dalam kelender Jawa) dan dilaksanakan di kawasan obyek wisata Air terjun Sedudo. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk dan dihadiri oleh masyarakat dari dalam dan luar Nganjuk.

prosesi upacara ritual siraman sedudo (1)Secara umum rangkaian acara Siraman Sedudo terdiri dari pementasan tari tradisional, larung sesaji , pengambilan trita amerta, dan mandi bersama. Sebelum pertunjukan tari dimulai, seorang sesepuh berjalan menuju Air terjun Sedudo, di belakangnya berderet lima sesepuh lain yang membawa sesaji, disusul para putri domas, lima penari Bedhayan, dan paling belakang terdiri dari sepuluh gadis perawan berambut panjang dan lima perjaka tampan. Setibanya di kolam Air terjun Sedudo, tarian tradisional pun segera dipentaskan. Prosesi dilanjutkan dengan ritual larung sesaji di kolam Air Terjun Sedudo oleh Bupati Nganjuk. Setelah usai, para penari kembali mementaskan tarian. Di akhir pertunjukan tari, Bupati Nganjuk menyerahkan klenthing kepada sepuluh gadis berambut panjang sebagai pertanda prosesi ritual Amek Tirta dilaksanakan. Ritual tersebut dilakukan dengan mengisi klenthing dengan kucuran air Sedudo. Usai ritual selesai para pengunjung dan tamu undangan berebut masuk ke kolam Air terjun Sedudo untuk mandi bersama.

prosesi upacara ritual siraman sedudo (2)Para pengunjung yang berebut untuk mandi percaya bahwa air dari Air terjun Sedudo memiliki berbagai khasiat magis. Kepercayaan mengenai khasiat air Sedudo tidak lepas dari sejarah/mitos terjadinya Sedudo. Ada beberapa versi mengenai mitos tersebut. Versi I Terjadinya Air Terjun Sedudo berkaitan dengan mitos Sanak Pogalan. Sanak Pogalan adalah petani tebu yang harus menelan kecewa dari penguasa. Dia pun bertapa disekitar sumber Air Terjun Sedudo lereng Gunung Wilis dan berupaya membuat sumber air yang besar untuk menenggelamkan Nganjuk. Versi II Di era Kadari, seorang Rsi bernama Curigonoto bermaksud menjadikan kawasan Sedudo sebagai hutan rempah. Kemudian ia pun memohon pada penguasa Kadiri untuk mengirimkan benih rempah kepadanya. Permohonannya pun dikabulkan, namun saat dikirimkan secara tiba-tiba bibit tersebut tumpah disekitar sumber Air Terjun Sedudo. Kemudian tanaman rempah pun tumbuh subur di sekitar sumber. Karena mitos-mitos itulah banyak pengunjung yang meyakini khasiat dari Air Terjun Sedudo.

Prosesi mandi air di Sedudo ini dipercaya sudah berlangsung turun-temurun sejak jaman Kerajaan Majapahit, namun baru sekitar tahun 1987 prosesi ini dikemas sebagai kalender budaya dan berlangsung hingga sekarang.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *