Skip to content

Unplaned Story, Selomangleng The First Adventure

Tak ada yang menyangka jika hari itu akan menjadi sangat berarti bagi kami, 19 Januari 2009. Sangat konyol, dengan sebuah bolpoin kami menggantungkan harapan. Berharap kesurupan atau apa, kami tak tau itu. Yang terlintas hanyalah menghilangkan kepenatan menghadapi beratnya pelajaran dijenjang kelas tiga SMA.

Arah telah ditentukan, dan ke baratlah tujuan kami. Sempat terjadi perdebatan sengit akibat perbedaan persepsi tempat, namun akhirnya Goa Selomangleng dipilih sebagai the first adventure. Petualangan yang tak terduga dan tak direncanakan. Dalam petualangan itulah awal dari cerita-cerita  THE TRAVELLERS dimulai.

Matahari telah terik saat itu. Dengan persiapan yang terbatas kami pun segera berangkat. Perjalanan terasa amat panjang. Ya, karena objek yang kami tuju memang berada di kota sebelah, Kota Doho Kadiri. Tempat yang cukup jauh dari basecamp kami di Blitar.

Jauhnya jarak dan berbagai rintangan yang ada di jalanan tak kami hiraukan. Karena yang kami tuju adalah jalur lurus di depan. Kendaraan pun terpacu dengan penuh semangat. Setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di obyek yang dimaksud.

Menakjubkan!! Wisata Selomangleng yang sebenarnya merupakan obyek wisata sejarah, ternyata telah dipadukan dengan berbagi wahana hiburan oleh pemerintah setempat. Sungguh merupakan objek wisata yang komplek. Sebenarnya kami kepengen juga nyoba beberapa wahana, tapi malu hehehe… 😀 Udah gede. Akhirnya kami langsung menuju goa.

Memang bukan goa alam, namun kisah sejarah yang membalutnya telah memberikan makna lebih. Konon tempat ini merupakan tempat pertapaan orang suci (tapi kami g’ tau juga siapa dia… Cuma denger dari cerita pengunjung lain bahwa yang bertapa di sini adalah Dewi Kilisuci)

Hampir semua cerita yang memuat nama Dewi Kilisuci, pasti mengarah pada legenda Lembu Suro dengan Gunung Kelud. Dalam liputan perjalanan pertama kami ini, tidak akan dibahas mengenai legenda penghianatan cinta tersebut, tapi kami akan membahas fakta sejarah antara kaitan Dewi Kili Suci dengan Goa Selomangleng.

Dewi Kili Suci sebenarnya adalah putri mahkota Kerajaan Kahuripan (keturunan langsung Raja Airlangga dengan permaisurinya). Nama asli Dewi Kili Suci dalam prasasti Cane (1021) dan prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi[1]. Sayang sekali putri yang dinobatkan menjadi penerus singgasana Kahuripan ini memiliki kelainan biologis yang sangat tidak diinginkan wanita manapun. Akhirnya ia enggan menjadi penerus singgasana Kahuripan dan memilih menjadi pertapa di Goa Selomangleng hingga akhir hayat. Keputusan tersebut berdampak besar bagi kelanjutan Kerajaan Kahuripan yang akhirnya dibagi menjadi Panjalu dan Jenggala. Sekiranya inilah informasi yang dapat kami berikan dalam posting ini.

Setelah puas ngacak-ngacak goa dan mengabadikannya dalam beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Maskumambang. Tempat tersebut juga masih termasuk dalam kawasan objek Wisata Goa Selomangleng.

Tanpa ragu-ragu kami pun menaiki anak tangga yang mengarah menuju pucak bukit. Tak disangka, ternyata bukit tersebut tinggi juga. Meitika sempat kelelahan dan terpaksa berhenti sejenak untuk beristirahat. Sementara itu, Bokir, Koje, dan Tiko terus melanjutkan perjalanan. Dengan tertatih-tatih akhirnya aku (Galy), Kecing dan Meitika berhasil sampai ke puncak, menyusul yang lainnya.

Pemandangan cukup bagus dari atas bukit, Kota Kediri terlihat begitu indah. Setelah puas menikmati keindahan alam dari puncak kami pun bergegas untuk turun. Saat berada di puncak bukit, cuaca berubah drastis. Sebagian bukit cerah dengan sinar matahari yang terik, dan sebagian lagi diguyur hujan. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, hujan turun merata di seluruh bukit. Bukannya berhenti untuk berteduh, kami malah berlomba untuk menuruni bukit(sinting!!) 😈 .

Objek wisata Goa Selomangleng ternyata berdekatan dengan Museum Airlangga yang memamerkan berbagai artefak dan arca-arca bersejarah. Sungguh kawasan wisata yang lengkap 🙂

Tak terasa matahari telah condong ke barat. Kami harus bergegas untuk pulang. Namun sebelumnya kami menyempatkan diri dahulu untuk beribadah. Sejenak mensyukuri karunia Tuhan yang telah dianugrahkan pada kami. Dalam suasana yang kusyu’ itulah kami sepakat untuk mempererat tali persaudaraan di antara kami melalui sebuah wadah. Dan detik itu juga The Travellers tebentuk. Dari sinilah semua kisah kami mulai terukir. Kami telah berjanji dalam hati untuk terus melanjutkan petualangan kami, yang kelak akan menjaga persahabatan diantara kami.

( 😮 Oy…!!!!! ceritanya masih blom selesai!!!!)

Suasana sore kota Kadiri menghantar kepulangan kami. Keindahan serta pesonanya sungguh sayang untuk dilewatkan, namun kami tetap berlalu. Kami terus berpacu.

Perjalanan pulang asyk sekali, sampai-sampai kami tak sadar jika di depan ada razia kendaraan bermotor. Kami pikir semuanya akan baik-baik saja. Buktinya aku, Koje, Meitika dan Tiko dapat lewat tanpa pemeriksaan. Namun malang nasib Bokir dan Kecing, Karena tidak memiliki SIM, Bokir yang saat itu membonceng Kecing mendadak berhenti dan bertukar posisi. Hal itu mengundang kecurigaan polisi, yang langsung manghampiri dan mengintrogasi mereka. Pembelaan yang mereka berikan tidak cukup cerdik untuk mengelabuhi para polantas itu. (Ya mau gimana lagi, Rp 35.000 melayang dech… 😥 ) Namun kami menyadari bahwa hal tersebut merupakan kesalahan kami. Kami memang melakukan pelanggaran karena tidak memiliki/membawa SIM, dan setiap pelanggaran itu pasti ada sangsinya. Dari sinilah kami mulai menyadari bahwa setiap tindakan harus dijalani dengan mematuhi peraturan yang ada. Kami percaya jika semua dijalani dengan mematuhi norma-norma yang ada, maka semua akan baik-baik saja. Dan benar!! Dengan kesadaran untuk mematuhi setiap peraturan yang ada, kami dapat pulang dengan selamat.


Writer : Galy Hardyta

Editor : A. M. Kusumawardhani

Revisi terakhir : Februari 2011

Sumber :

Participant: Bokir, Galy, Kecing, Koje, Meitika, Tiko

5 Comments

  1. […] adalah Hindu. Situs yang serupa dengan Situs Goa Sentono juga di temukan di Jawa Timur, yaitu Situs Goa Selomangleng di Kediri dan Tulungagung. Situs-situs tersebut benar-benar mirip dengan situs Goa Sentono. Namun hal ini […]

  2. […] ia menebus kesalahanya dengan melepas tahta dan bersemedi memohon keselamatan untuk rakyatnya di Goa Selomangleng dan Gunung Pegat hingga akhir hayatnya. 2. VERSI 2 Berdasarkan cerita rakyat yang […]

  3. Hadi Hadi

    Bgus nich artikelnya.mengangkat tema sejarah di blitar dan sekitar.semoga makin berkembang travelers.

  4. Amin..
    🙂
    trimakasih telah berkunjung…

  5. […] Dwarapala, arca Ganesa, arca Mahakala, serta arca-arca yang mirip dengan arca yang kami temui di selomangleng (arca Narasinga lencana kerajaan Kadiri era pemerintahan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *