Skip to content

Tlatah Lodaya dalam Batu

Janjan sangke balitarangidul tut margga, sangkan poryyang gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteng lodhaya sira pirang ratryangher, sakterumning jaladhi jinalah tut pinggir

Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan, mendaki kayu-kayu mengering kekurangan air tak sedap dipandang, maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal disana, tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisir pantai.

Demikianlah Nagara Krtagama menguraikan Lodaya/ Lodoyo, sebuah kawasan di selatan sungai Brantas Blitar yang kini secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kademangan, Sutojayan, dan beberapa kecamatan lain di Blitar selatan. Jelas pula kitab yang memuja keagungan Raja Hayam Wuruk itu dalam mendiskripsikan keadaan Lodaya, di mana daerahnya bergunung-gunung, kering, dan berbatasan langsung dengan mahasamudera. Lalu mengapa sang Maharaja berkenan untuk singgah di Lodaya?? Bukankah kunjungannya itu tidak main-main? Pastilah ada peradaban yang kondusif sehingga sang Maharaja berkenan tinggal beberapa malam di Lodaya. Namun jika melihat kondisinya sekarang,  sepertinya ada kejayaan yang terkubur di tlatah itu.

Perjalanan menyibak sejarah kejayaan Lodaya pun dimulai dari batu. Dapatkah ini semua membuktikannya??

Arca

Arca di SDN 1 Kademangan

Di pelataran SDN 1 Kademangan dapat dijumpai dua buah arca tokoh. Keduanya menggambarkan sosok laki-laki dan wanita. Kemungkinan keberadaan kedua arca ini berkaitan dengan Candi Simping yang hanya berjarak 1.8 km di selatannya.

arca lodoyo kademangan (1)  arca lodoyo kademangan (2)

Kurang jelas fungsi kedua arca tersebut, tetapi jika dilihat dari keduanya yang memegang alat genital masing-masing, diduga kedua arca ini melambangkan penciptaan.

Arca di rumah warga Jingglong Sutojayan

Dua buah arca yang berada di halaman rumah salah seorang warga Jingglong ini tidak lah insitu, melainkan berasal dari SMK PGRI Sutojayan. Kedua arca ini memang telah rusak, namun jika ditilik dari atributnya, diindikasikan bahwa arca tersebut bercorak agama Hindu. Salah satu arca didapati memegang trisula, arca tersebut diindikasikan sebagai Siwa. Arca lainnya digambarkan berperut buncit, duduk bersila dengan dua telapak kakinya bertemu di tengah (sikap duduk uttkutikasana), arca ini diindikasikan sebagai Ganesha.

 

Lingga

Lingga adalah simbol aspek pria yang juga sebagai penggambaran Dewa Siwa. Lingga berbentuk balok dengan bagian atas berbentuk segi enam dan bagian bawah berbentuk persegi. Adapun lingga tidak semuanya berfungsi sebagai sebagai sarana pemujaan, ada pula yang berfungsi sebagai pembatas tanah simma atau sebagai pembantu diagram pengkotakan tanah tempat mendirikan bangunan suci. Di kawasan Lodaya ini terdapat lingga yang kemungkinan berfungsi sebagai pembatas tanah. Lingga tersebut ditemui dalam kondisi terbalik dan terletak di kawasan hutan Lodoyo, tepatnya di pinggir ruas jalan Kademangan-Sutojayan.

Prasasti

Prasasti Gunung Nyamil

Prasasti Gunung Nyamil berada di halaman kantor Perkebunan Sub Unit Gunung Nyamil. Secara administratif terletak di Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto.

Prasasti Gunung Nyamil terbuat dari batu putih. Kronogram yang tertera dalam prasasti ini menunjukkan tarik 1287 M.

Prasasti Jaring

Prasasti Jaring terletak di Dusun Jaring, Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Sutojayan. Prasasti yang bertarik 1181 M ini berisikan tentang penetapan anugrah Raja Kadhiri kepada warga Jaring yang turut membasmi musuh raja.

Prasasti Rejowinangun

Prasasti Rejowinangun terletak di pelataran Masjid At-Ta’awun Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan. Prasasti ini telah aus sehingga tidak dapat diketahui isinya. Keberadaan prasasti ini kemungkinan berkaitan dengan Punden Plosorejo di Desa Plosorejo.

Punden

Punden Mbah Putri

Punden Mbah Putri terletak di Desa Ngeni Kecamatan Wonotirto. Situs ini terdiri dari beberapa lumpang, umpak, dan watu dakon yang terbuat dari batu putih. Dahulu pernah ada sebuah arca wanita di area ini, sehingga masyarakat menyebutnya Punden Mbah Putri. Keberadaan arca yang dimaksud kini tidak lagi diketahui.

Di area punden juga dijumpai adanya makam kuno, makam tersebut dikenal sebagai makam Mbah Panji yang dipercaya sebagai babat alas warga Ngeni.

Punden Plosorejo

Punden Plosorejo terletak di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan. Desa Plosorejo berbatasan langsung dengan Desa Rejowonangun tempat Prasasti Rejowinangun berada.

Pada Punden Plosorejo dijumpai lapik prasasti lengkap dengan atribut padmasana. Kemungkinan lapik ini merupakan bagian dari Prasasti Rejowinangun.

Situs

Situs Bening

Situs Bening terletak di Dusun Bening, Kelurahan Jingglong, Kecamatan Sutojayan. Situs ini terdiri dari dua buah batu candi yang tergeletak di sekitar pohon besar di area Dusun Bening.

Situs Makam Setono

Situs Makam Setono terdiri dari beberapa tinggalan bercorak Hindu yang tersebar di area Makam Setono Kelurahan Jingglong, Kecamatan Sutojayan. Tinggalan tersebut berupa batu candi, potongan arca, dan yoni.situs makam setono (2)

Selain tinggalan bercorak Hindu, di area makam ini juga dapat dijumpai makam beberapa tokoh penting dalam perhelatan sejarah Lodoyo. Di antaranya adalah makam Pangeran Sutojoyo dan Pangeran Prabu yang terkenal dengan Gong Kyai Pradahnya[1].

Makam Setono sendiri secara harfiah dapat diartikan sebagai makam para setono (pembesar kerajaan). Sehingga tidak mengherankan jika di area makam ini terdapat beberapa makam pembesar. Berkaca pada folklore Gong Kyai Pardah, pembesar-pembesar tersebut diindikasikan berasal dari era Mataraman.

Situs Pertapan Hargo Ageng

Situs Pertapan Hargo Ageng merupakan sekumpulan umpak yang terdapat dipuncak Gunung Gede, Desa Gunung Gede, Kecamatan Wonotirto. Umpak-umpak tersebut terbuat dari batu putih mirip dengan yang ditemukan di Punden Mbah Putri.

Tinggalan-tinggalan yang kami ulas ini tidak termasuk tinggalan-tinggalan besar seperti Candi Bacem, Candi Simping, Kekunaan Jimbe, dan Situs Besole beserta prasastinya. Benar-benar fakta yang mencengangkan. Lalu sebenarnya apakah Lodaya ini?? Bagaimana menurut anda?? 🙂


Writer : Galy Hardyta

Participant : Galy, Kcing

10 Comments

  1. waduh kog malah buat misteri baru.. hehehe.. 😛

  2. Busyett…
    kaga dapat petromax disini 😀

    Ah mantep,
    jadi ingat pas di kuburan Setono malem2 sama mbah Deni 😀

  3. hahaha.. sampean kurang beruntung.. 😀
    wah wengi?? pasti lebih mateb!! 😉

  4. sutikno sutikno

    Mas Kalau Maulid Nabi di Lodoyo apa masih ramai pengunjung……???. oya Mas saya dulu sering main di Ds. Gondang Tapen, sekarang Ds. Ringinsari, arah menuju Pantai Jolosutro,di sana ada Gunung di sebut masyarakat setempat Gunung Lanang, di Puncaknya waktu itu ada sebuah tugu kecil, kalau saya amati tugu itu juga ada sejarahnya, tapi saya waktu itu belum paham, coba kalau ada waktu ditelusuri. ok salam utk teman – teman.

  5. masih pak.. berikut dokumentasi kami terkait prosesi siraman gong kyai pradah 2012 (www.facebook.com/media/set/?set=oa.10150575381814476&type=1) 😀
    wah ada tugunya?? hem namanya “gunung lanang” jangan-jangan itu “lingga” pak??
    nggih.. salam balik kagem njenengan.. 🙂

  6. ariys chrisdiyanto ariys chrisdiyanto

    blitar penuh peninggalan sejarah trus kita sebagai generasi bagaimana menjaga dan melestarikan nya ? punden kelurahan gedog kec sanan wetan juga menarik di kupas sejarah nya kebetulan juru kunci nya kakek saya.

  7. pernah ke wonotirto?di banjarsari ada namanya kuncup, disitu ada tumpukan batu yg disusun seperti candi tapi sudah rubuh, dikanan kirinya ada lumpang dan peralatan dari batu. masih berserakan disekitar situs tersebut. penasaran juga, karena kalau bangunan candi dari batu tentu lebih tua dari candi majapahit yg menggunakan batu bata. peradaban siapa yg membuatnya?wallahu alam.

  8. Wow dapat info baru nih 😀
    makasih pak, lain kesempatan bisa kami sambangi langsung k TKP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *