Skip to content

Situs Slumbung, Potensi Wisata Sejarah dan Budaya dari Blitar Timur

candi slumbung

Onggokan batu di bawah pohon semboja ini sebenarnya merupakan benda cagar budaya yang begitu bernilai. Inilah Situs Slumbung, sebuah situs peninggalan sejarah yang terletak di Desa Slumbung, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Ada banyak informasi menarik mengenai situs ini baik yang bisa diperoleh dari penjabaran Juru Pelihara Situs, maupun dari catatan-catatan arkeologi.

Salah satu catatan arkeologis yang cukup lengkap mengupas Situs Slumbung adalah ROC, yakni sebuah catatan Belanda yang membahas sejumlah peninggalan sejarah. Berdasarkan catatan tersebut, ternyata kondisi Situs Slumbung sejak dicatat hingga sekarang tak jauh berbeda. Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa tumpukan batu candi di Desa Slumbung berada di bawah pohon semboja, di mana pohon tersebut hingga kini masih bisa kita lihat.

Masih berdasarkan ROC, sejumlah artefak yang terhimpun di Situs Slumbung antara lain: beberapa pilar persegi batu andesit, ojief, jambangan, batu gong dengan diameter 1 m ketebalan 0,15 m, dan fragmen nandi. Saat ini beberapa artefak andesit dari Situs Slumbung sudah tidak ditemukan lagi, misalnya fragmen nandi. Selain artefak berbahan batu andesit, ternyata pernah dijumpai pula beberapa artefak berbahan perunggu. Bentuk artefak-artefak tersebut beraneka ragam mulai dari mata tombak hingga bandul genta. Saat ini artefak-artefak perunggu tersebut di simpan di Museum Nasional Jakarta.

situs slumbungBerdasarkan pembacaan pada beberapa inskripsi yang terdapat di sekitar situs, diperoleh dua angka tahun yakni 1246 Saka (1324 M) dan 1256 Saka (1334 M). Kedua angka tahun ini masuk dalam kurun waktu berkuasanya Kerajaan Majapahit. Berdasarkan penanggalan dan ragam artefaknya, seperti pernah ditemukannya fragmen nandi, diduga kuat situs ini berasal dari kebudayaan Hindu.

Poin menarik dari Situs Slumbung tidak hanya berhenti pada aspek historisnya saja. Unsur budaya juga cukup kental menyelubungi situs ini. Dahulu pada situs yang disebut sebagai Punden Joko Slumbung ini, sering diadakan pagelaran wayang krucil. Wayang tersebut mengambil kisah perjalanan seorang tokoh bernama Joko Slumbung, yang memiliki kaitan erat dengan asal-usul desa. Berikut kutipan cerita wayang krucil Joko Slumbung yang tercatat dalam bahasa Jawa Baru:

Pangeran Semendi ing Tembajat kagoengan poetra kakoeng wasta Djaka Sloemboeng patoetan sangking garwa ampean. Djaka Sloemboeng poeniko dipoen trisnani sanget dening ingkang rama serta dipoen gadang-gadang anggentossi kalenggahannipoen ingkang rama. Sareng Djaka Sloemboeng sampoen diwasa Pengeran Semendi ladjeng krama, kapoendoet mantoe dening Ki Ageng Pangradjegan nama Kjahi Tipoesnjana.

Boten wetawis lami garwanipoen Pengeran Semendi poeniko ambobot, penggalihipoen Kjahi Ageng Tipoesnjana bilih ing tembe Pangeran Semendi wahoe kagoengan poetra mios kakoeng sagedda anggentosi panjenenganipoen ingkang rama, sampun ngantos kasorran kawibawan kalajan Djaka Sloemboeng. Ing ngrikoe Kjahi Tipoesnjana ngatik-atik ingkang poetra soepados motaha dateng ingkang raka njidam kaworrannjoewoen bader bang sisik kentjana ingkang manggen ing Kedoeng Setoengkoel. Pangeran Semendi tinangisan ing garwo, mboten saronta, ladjeng mangkat dateng Kedoeng Setoengkoel kalajan ngasta djala soetra. Doemoeginipun ing ngriko, ladjeng andawahakan djala, tinarik kengelan, Pangeran Semendi ladjeng andjegoer ing kedoeng, njloeloepi djala ananging […]

Gantos kotjappa: Djaka Sloemboeng ingkang kantoen piambak ing dalem, ladjeng linoeroegan dening balanipoen Kjahi Tipoesnjana soemedja katoempes kalampahan bonda joeda, ananging Djaka Sloemboeng kawon joedanipoen ingeloed mengsah. Djaka Sloemboeng ladjeng mengetan: sapisahipoen kalian mengsah Djaka  Sloemboeng lerem ing wana sakilenipoen lepen Lesa, adedepok ing ngrikoe, ingkang tembenipoen kawastanan poenden Djaka Sloemboeng doemoenoeng salebettpoen Doesoen Sloemboeng. Mboten wetawis lami Djaka Sloemboeng ngalih padepokan datang ing wana Pangajabban, saetanipoen lepen Lesa, ingkang sapoenika dados siti persil Sajab ampejannipoen persil Djoeleg, bawah distrik Wlingi. Wonten ing ngrikoe lelampahannipoen Djaka Sloemboeng ing saladjengipoen boten katjarios.

Secara singkat kisah tersebut menceritakan asal-usul Joko Slumbung hingga peristiwa yang menyebabkannya harus melarikan diri ke suatu hutan di barat Sungai Lekso (lepen Lesa). Dari kisah ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya Joko Slumbung tidak menetap di Desa Slumbung melainkan hanya mendirikan padepokan, dan kemudian melajutkan perjalanan ke timur Sungai Lekso.

Berdasarkan nama-nama tokoh dan gaya certianya, diduga kisah Joko Slumbung ini berasal dari abad 16 – 17an. Dimana Nama Tokoh Pengeran Semendi dari Tembayat memang benar-benar ada, beliau adalah keturunan Sunan Tembayat, tokoh penyebar Agama Islam sekaligus penguasa Tembayat (Klaten) pada abad 16. Menarik sekali mengingat penanggalan artefak Situs Slumbung berasal dari abad 14an, artinya usia artefak dan usia kisah Joko Slumbung terpaut waktu yang cukup jauh sekitar dua abad. Mungkin Situs Slumbung sempat ditinggalkan oleh masyarakat penyokongnya, dan ditemukan lagi saat Joko Slumbung membuka padepokan di sini.

Sayang sekali saat ini wayang krucil Joko Slumbung sudah musnah, sehingga sudah tidak ada lagi pegelaran wayang krucil di sini. Meskipun sudah tak ada gelaran wayang, sesekali masyarakat masih berkumpul di sekitar punden ini untuk bersih desa dan keperluan-keperluan tertentu.

artefak situs slumbungJaladwara Situs Slumbung

Melihat begitu kompleknya unsur historis dan budaya, bukan mustahil bahwa Situs Slumbung dan kisah Joko Slumbung berpotensi untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Musnahnya wayang krucil bukan akhir dari segalanya. Asal kisah Joko Slumbung ini masih ada, wayang krucil masih bisa dibangkitkan lagi. Desa Slumbung harus optimis, mengingat keletakannya cukup berpotensi untuk mengembangkan suatu obyek wisata.

Desa Slumbung terletak di jalur yang cukup strategis yakni berada jalur Blitar- Ngantang yang dipenuhi oleh deretan obyek wisata. Pada Jalur ini ada Blumbang Soso, Desa Wisata Semen, Obyek Wisata Rambut Monte di Krisik, dan tentunya keberadaan Situs Slumbung sendiri. Jika Potensi Wisata Desa Slumbung ini dikembangkan, tak ayal keberadaanya akan semakin meramaikan jagad pariwisata di Gandusari dan Blitar timur.

situs slumbung blitar


Writer: Galy Hardyta

Photographer: Galy Hardyta & A.M. Kusumawardhani

Sumber:

  • ROC

Participant: Galy, Meitika

One Comment

  1. […] terletak di bawah pohon kamboja ini di namakan Situs Slumbung, peninggalan sejarah yang terletak di Desa Slumbung, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Banyak informasi yang di peroleh dari situs ini yang bida di dapat dari penjabaran Juru Pelihara […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *