Skip to content

Situs Punden Mbah Gedong, ODCB di Dekat Candi Lor Nganjuk

situs punden mbah gedong

Situs Punden Mbah Gedong.

Tak jauh dari Candi Lor Nganjuk terdapat sebuah punden keramat yang disebut Punden Mbah Gedong. Pada punden ini dapat dijumpai sejumlah obyek diduga cagar budaya (ODCB). Apakah kiranya punden ini berkaitan dengan Candi Lor?

Lokasi dan Rute

Situs Punden Mbah Gedong terletak di Desa Candirejo, Kec. Loceret, Kab. Nganjuk. Situs ini terletak sangat dekat dengan Candi Lor. Dari Candi Lor silakan ke barat (ke arah Madiun). Pada gang ke tiga dari candi silakan belok ke kiri (ke selatan). Punden Mbah Gedong berada di antara pemukiman penduduk.

Deskripsi Situs

Situs Punden Mbah Gedong merupakan makam keramat yang disusun dari bata kuno berukuran raksasa. Makam dikelilingi dengan tembok keliling berdenah bujur sangkar yang juga tersusun dari bata kuno. Pada makam didapati fragmen arca, kemuncak, lingga, lumpang dan umpak. Ketokohan arca tidak dapat diketahui karena hanya tersisa bagian kaki saja.

Situs Punden Mbah Gedong, ODCB di Dekat Candi Lor Nganjuk 9

Makam dan fragmen arca.

Situs Punden Mbah Gedong, ODCB di Dekat Candi Lor Nganjuk 10

Fragmen kemuncak.

Situs Punden Mbah Gedong, ODCB di Dekat Candi Lor Nganjuk 11

Fragmen lingga dan umpak.

Muncul banyak pertanyaan terkait Punden Mbah Gedong ini. Apakah punden ini benar-benar makam? Bagaimana bisa ada benda-benda yang diduga cagar budaya bercorak klasik Hindu Budha di makam ini? Coba kita kulik satu persatu.

Sebagaimana umumnya makam, Punden Mbah Gedong ini juga dilengkapi dengan nisan. Sepintas nisan tersebut sepertinya tidak mencirikan nisan kuno. Nisan di punden ini bisa dibandingkan dengan nisan kuno di Situs Makam Nduro Prambon atau di situs-situs makam kuno lainnya, bentuknya berbeda.

Kneble dalam laporannya tahun 1908 mengenai Candi Lor memang menyebutkan adanya makam yang tersusun dari bata di kaki bukit Candi Lor. Namun sepertinya makam yang dimaksud lebih ke makam Eyang Kerto dan Eyang Kerti yang berada di lokasi Candi Lor saat ini.

Anehnya, dengan segala gejala-gejala arkeologis yang terdapat di Situs Punden Mbah Gedong, punden ini justru luput dari laporan-laporan peneliti yang mengulas Candi Lor. Padahal letak keduanya sangat berdekatan. Candi Lor telah mengundang begitu banyak peneliti mulai dari Raffles 1817, Hoepermans 1866, Kneble 1908, Brandes 1913, Krom 1923 namun tak ada satu pun yang mengulas Punden Mbah Gedong.

Patut dipertanyakan apakah punden ini pada abad 18 dan 19 dulu belum ada? Masih terkubur? Atau dianggap tidak bernilai historis karena berupa makam? Makam-makam kuno memang terkadang diabaikan oleh para peneliti karena dianggap tidak bernilai historis. Contohnya seperti inskripsi-inskripsi pada Situs Makam Trowulan Mojokerto yang dianggap para peneliti tidak penting, sampai Damais menguak betapa pentingnya inskripsi-inskripsi tersebut. Kasus serupa juga terjadi pada Situs Astono Gedong di Tulungagung yang merupakan kompleks pemakaman kuno. Kneble sempat mengulas Astono Gedong namun hanya mengulas tinggalan arca Budha dan menafikan makam kunonya.

Apakah benda-benda diduga cagar budaya di Situs Punden Mbah Gedong ini berasal dari Candi Lor? Memang bisa jadi begitu. Hoepermans dalam laporannya menginformasikan mengenai aktivitas penjarahan Candi Lor yang dilakukan oleh masyarakat. Penjarahan itu dilakukan untuk keperluan pembangunan dam Pabrik Gula Djati. Apakah ada kemungkinan bahwa benda-benda dari Candi Lor juga di jarah untuk menyusun punden ini? Perlu kajian yang mendalam.

Situs Punden Mbah Gedong, ODCB di Dekat Candi Lor Nganjuk 12

Kolom/ pilar pada pagar keliling.

Jadi, ada banyak hipotesis mengenai Situs Punden Mbah Gedong ini. Pertama, bisa jadi situs ini bukan makam, melainkan struktur bangunan dari masa klasik. Penyusunan makam dimaksudkan agar situs ini dilestarikan sesuai dengan perkembangan agama yang dianut masyarakat. Jika hipotesisnya demikian, mungkin situs ini belum ditemukan pada abad 18 dan 19 sehingga luput dari para peneliti. Kedua, bisa jadi situs ini benar-benar makam dan sengaja diabaikan oleh peneliti karena dianggap tidak bernilai historis. Ketiga, bisa jadi pula situs ini disusun menggunakan benda-benda jarahan dari Candi Lor. Gimana gaes, mau nambahin hipotesis? Monggo, sampaikan di kolom komentar ya. 😀


Writer: Galy Hardyta

Selftraveling

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!