Skip to content

Situs Makam Nduro, Makam Islam Kuno di Prambon Nganjuk

situs makam nduro

Situs Makam Nduro.

Sebuah makam Islam kuno dengan nisan berciri Demak-Troloyo dapat dijumpai di Kecamatan Prambon Kab. Nganjuk. Dari makam inilah asal-usul nama Prambon bermula. Makam Islam Kuno ini disebut Situs Makam Nduro atau Mbah Nduro.

Lokasi dan Rute

Situs Makam Mbah Nduro secara administratif terletak di Dusun Nanggungan, Desa Watudandang, Kec. Prambon, Kab. Nganjuk. Untuk menuju situs ini dari Nganjuk silakan menuju Warujayeng. Ikuti jalan raya Warujayeng-Kediri. Kantor Pos Prambon ke selatan sejauh 600 meter hingga menjumpai perempatan. Dari perempatan tersebut silakan belok ke kiri hingga menjumpai sungai irigasi. Makam Nduro terletak di tepi sungai irigasi. Letak Makam Nduro dalam map dapat dilihat di sini.

Makam Nduro ini berkaitan dengan legenda nama nama tempat di sekitarnya. Dalam cerita tutur, dikisahkan mengenai rombongan utusan Raja Brawijaya dari Ibukota Majapahit yang diperintahkan untuk menuju Kediri. Rombongan tersebut memiliki keperluan untuk melangsungkan pernikahan antara keluarga Majapahit dan Kediri. Pernikahan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya peperangan antara kedua keluarga.

Rombongan tersebut terdiri dari Resi Mundoro, Adipati Singo Tenggarong, Putri Juar Manik, Buyut Kendil Wesi. Raden Damar Moyo Wirotomo, Bajul Sengoro, Roro Kembang Dadar, Joko Landong, Prabu Anom, Ki Ageng Penggiri, Nyi Roro Telasih.

Dalam salah satu versi cerita, rombongan tersebut tidak berhasil sampai Kediri karena pada saat yang bersamaan Kediri tengah diinvasi Pasuruan. Pada versi yang lain, rombongan berhasil sampai Kediri namun oleh penguasa Kediri dilarang kembali ke Majapahit dan bermukim di sekitar lokasi Makam Nduro saat ini berada. Baik dalam versi pertama maupun kedua, rombongan tersebut sama-sama tidak kembali ke Majapahit dan menanggung titah penguasa. Kisah ini lah yang melatarbelakangi nama Dusun Nanggungan.

Kisah masih berlanjut. Pada suatu ketika salah satu tokoh bermimpi ditemui seorang nenek-nenek. Dalam mimpinya ia diminta untuk membuat tempat menanak nasi. Karena tidak ada, maka nenek tersebut membuat tempat menanak nasi (dandang) dari batu. Cerita tutur ini lah yang melatarbelakangi lahirnya nama Desa Watudandang.

Sementara itu berkaitan dengan nama Kec. Prambon. Konon nama tersebut juga berasal dari makam kuno ini. Rombongan yang bermukim tadi merupakan utusan dari Prabu Brawijaya (rombongan keprabon). Dari kata keprabon ini lah konon nama Prambon berasal.

Cerita tutur yang diuraikan di atas tergolong sebagai legenda karena berkaitan dengan asal usul terjadinya suatu tempat. Akan tetapi cerita tersebut tidak sepenuhnya dapat dijadikan untuk merekonstruksi sejarah. Mengingat cerita ini bercampur dengan mitos.

Deskripsi Situs

Situs Makam Nduro terdiri dari sejumlah makam Islam kuno. Suasana makam cukup rindang karena dinaungi oleh pohon pohon besar. Selain tinggalan berupa makam Islam kuno, pada situs ini juga dapat dijumpai adanya menhir dan fragmen dorpel (batu ambang pintu). Keberadaan fragmen batu ambang pintu ini memunculkan dugaan bahwa dahulu pernah ada semacam pintu atau mungkin gapura untuk menuju area makam.

Situs Makam Nduro, Makam Islam Kuno di Prambon Nganjuk 10

Komplek pemakaman kuno Situs Makam Nduro.

Jirat makam (saat ini) tersusun dari bata ukuran besar sedangkan nisannya berbahan batu andesit. Nisan kuno di kompleks Pemakaman Nduro ini memiliki ukuran yang beragam mulai dari yang berukuran kecil hingga yang sangat besar. Tidak/ belum ditemukan adanya inskripsi atau epitaf pada makam-makam tersebut. Oleh karena itu, kita masih belum bisa mengetahui siapa-siapa tokoh yang dimakamkan di sini.

nisan makam nduro

Salah satu nisan di Situs Makam Nduro.

Situs Makam Nduro, Makam Islam Kuno di Prambon Nganjuk 11

Ragam hias nisan Situs Makam Nduro.

Situs Makam Nduro, Makam Islam Kuno di Prambon Nganjuk 12Menhir di Situs Makam Nduro.

Berdasarkan bentuk nisannya, nisan makam Mbah Nduro tergolong dalam tipe Demak-Troloyo, dengan nisan berbentuk lengkungan makara, memiliki ornamen tumpal dan medalion. Bentuknya lebih dekat dengan bentuk nisan di Situs Makam Troloyo. Bentuk yang umum dari Nisan Troloyo adalah adanya lengkungan menyerupai makara pada kanan kiri nisan (meski tidak semua, seperti pada nisan makam nomor 6 yang merupakan nisan dengan angka tahun tertua). Lebih jelasnya dapat dilihat pada “Epigrafi dan Sejarah Nusantara Pilihan Karangan Louis-Charles Damais” halaman 313-328.

Sedikit DTrav ulas, Situs Makam Troloyo merupakan kompleks pemakaman Islam Kuno di Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto. Pemakaman ini terletak di kawasan yang diduga merupakan bekas Kutaraja Majapahit. Nisan-nisan Troloyo memuat inskripsi angka tahun, sebagian memuat epitaf, medalion dengan ornamen surya, dan kutipan Al Qur’an. Angka tahun tertua adalah 1298 Saka (1376 Masehi) dan yang paling muda adalah 1533 Saka (1611 Masehi). Berdasarkan angka tahun terbut diketahui bahwa Situs Makam Troloyo telah ada sejak periode pemerintahan Rajasanagara (Hayam Wuruk) yang merupakan masa keemasan Majapahit.

Dari nisan Makam Troloyo kita mengetahui bahwa setidaknya Islam secara bertahap telah ada di Jawa berbarengan dengan masa keemasan Majapahit yang bercorak Hindu Budha. Menilik bentuk nisan-nisan Makam Nduro yang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan nisan-nisan Makam Troloyo, apakah Makam Nduro berasal dari periode yang sama dengan Makam Troloyo? Di mana saat itu Islam mulai berkembang ditengah hegemoni Hindu Budha? Tidak bisa dipungkiri Situs Makam Nduro ini memang dikepung situs-situs bercorak Hindu Budha seperti Situs Baleturi, Situs Tanjung Kalang, Candi Banjarsari dan lain sebagainya.

Selain dengan Troloyo, kita juga dapat membandingkan nisan di Situs Makam Nduro dengan makam makam Islam kuno lain di sekitar eks Karesidenan Kediri. Kita ambil contoh nisan Situs Astono Gedong dan Situs Makam Ki Ageng Sengguruh di Tulungagung yang diperkirakan berasal dari era Demak. Tentu bagaimana pun, bentuk nisan Makam Mbah Nduro lebih mirip dengan Makam Troloyo. Sayangnya tidak seperti Troloyo yang telah diulas oleh banyak peneliti, atau Astono Gedong yang setidaknya pernah di laporkan oleh Stutterheim dan Damais, Situs Makam Nduro ini belum banyak dikaji. Oleh karena itu kesejarahan dari Makam Mbah Nduro ini masih menjadi misteri.

Situs Makam Nduro, Makam Islam Kuno di Prambon Nganjuk 13

Makam Mbah Nduro.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Damais, L.C. 1995. Epigrafi dan Sejarah Nusantara Pilihan Karangan Louis-Charles Damais. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Jakarta
  • Ohorella, G.A. 1997. Kongres Nasional Sejarah 1996 Sub Tema Studi Komparatif dan Dinamika Regional II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jakarta

Selftraveling

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!