Skip to content

Sedudo Dua Perspektif yang Berbeda

Situasi dan kondisi yang berbeda ternyata mempengaruhi penilaian terhadap suatu obyek. Setidaknya hal itulah yang kami rasakan terhadap Sedudo, sebuah air terjun di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Air terjun ini merupakan salah satu obyek wisata unggulan Kabupaten Nganjuk yang telah dikenal di antero Jawa Timur. Penikmat air terjun ini tak hanya berasal dari kalangan wisatawan saja, melainkan juga para pengalap berkah. Hal ini lah yang tidak kami sadari saat menyambangi air terjun ini pada tahun 2009 silam. Kini kami pun kembali menyambanginya untuk memberikan persepektif yang berbeda.

”Udaranya sangat bersih dan sejuk karena terletak pada ketinggian 1438 m dpl.” Begitulah sepenggal pernyataan yang tertulis pada papan keterangan air terjun ini. Kali ini dengan setulus hati kami pun meng-iyakan pernyataan tersebut. Berbeda dengan apa yang kami alami pada 26 Juli 2009 silam. Kala itu Saya, Tiko, dan Kcing menyambangi obyek ini ketika Prosesi Upacara Ritual Siraman Sedudo tengah berlangsung. Suasananya sungguh ramai penuh dengan pengunjung yang ngalap berkah mengharap khasiat air dari air terjun ini. Prosesi ini juga dihadiri oleh jajaran pejabat Nganjuk, sehingga kami tidak leluasa untuk mblusuk-mblusuk, bahkan ketenangan pun tak dapat kami rasakan karena crowdednya tempat itu. Berjejalnya pengunjung yang ngalap berkah memang cukup beralasan, sebab khasiat air Sedudo dianggap mencapai puncaknya pada bulan-bulan Suro seperti saat itu.

Kepercayaan mengenai khasiat air Sedudo tidak lepas dari sejarah/mitos terjadinya air terjun ini. Ada beberapa versi mengenai mitos tersebut, dan berikut salah duanya: Versi I Terjadinya Air Terjun berkaitan dengan mitos Sanak Pogalan. Sanak Pogalan adalah petani tebu yang harus menelan kecewa dari penguasa. Dia pun bertapa disekitar sumber Air Terjun Sedudo lereng Gunung Wilis dan berupaya membuat sumber air yang besar untuk menenggelamkan Nganjuk. Versi II Di era Kadari, seorang Rsi bernama Curigonoto bermaksud menjadikan kawasan Sedudo sebagai hutan rempah. Kemudian ia pun memohon pada penguasa Kadiri untuk mengirimkan benih rempah kepadanya. Permohonannya pun dikabulkan, namun saat dikirimkan secara tiba-tiba bibit tersebut tumpah disekitar sumber Air Terjun. Kemudian tanaman rempah pun tumbuh subur di sekitar sumber. Karena mitos-mitos itulah banyak pengunjung yang meyakini khasiat dari Air Terjun Sedudo.

Pemandangan seperti foto di atas tidak kami jumpai dalam perjalanan kali ini. Suasana Sedudo sungguh lengang dan tampak asri di hari-hari biasa, sehingga kami benar-benar dapat merasakan indahnya air terjun berketinggian 105 m ini. Sungguh suasana yang begitu kontras dengan Sedudo yang kami kenal dulu, dimana kami belum terlalu mengenalnya.

Semoga perjalanan ini cukup memberikan gambaran mengenai keadaan Sedudo di dua suasan yang berbeda. Selanjutnya semua terserah pada tujuan masing-masing.

Tulisan terkait air terjun lain di Nganjuk:


Writer : Galy Hardyta

Sumber :

  • http://detik.travel/read/2012/01/19/211953/1820533/1025/air-terjun-sedudo-obat-awet-muda

Participant : Bokir, Galy, Koje, Chuko, Lia, Skar

4 Comments

  1. Salam kenal dari pesonamalangraya.com ; foto-fotonya bagus Mas, ukuran besar, jadi lega melihatnya. Moga blog ini bertambah maju selalu dan terus update. Salam.

  2. nggih mas.. salam kenal juga dari kami.. semoga setelah ini kita bisa jadi rekanan yang baik..
    amin.. maturnuwun nggih doanya.. 😀
    sukses kagem web panjenengan…

  3. Salam traveller juga mas, terima kasih udah mampir 😀
    wah tulisannya keren, tapi lucu juga.. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *