Skip to content

Penampihan Sirah Kencongnya Tulungagung

Kami rasa julukan di atas tidaklah berlebihan jika disandangkan pada kawasan yang berada di Desa Geger, Kecamatan Sendang ini. Banyak kesamaan antara Penampihan di Tulungagung dengan Sirah Kencong di Blitar, keduanya sama-sama berada di ketinggian 1o00 m dpl dan memiliki potensi wisata yang serupa baik peninggalan sejarah maupun panorama alam. Memang bukan sesuatu yang bijak ketika kami mencoba membandingkan kedua kawasan tersebut, mengingat masing-masing kawasan memiliki karakteristik yang spesifik. Anggap saja hal ini hanyalah sudut pandang kami sebagai orang Blitar yang mengagumi Penampihan di Tulungagung.

Penampihan berada di lereng sebelah timur Gunung Wilis dan berjarak 46 km dari pusat Blitar. Jarak tersebut lebih jauh jika dibandingkan dengan jarak Penampihan – Tulungagung yang hanya 25 km. Menghadapi fakta tersebut kami pun bergegas untuk menuju kawasan tersebut, apa lagi beredar kabar bahwa kondisi jalanan di 3 km terakhir sulit untuk dilalui. Karena posisi kami saat itu berada di Blitar utara, maka rute yang kami pilih adalah melalui Ngantru. Dari pertigaan traffic light setelah Makam Ngujang/ selatan Jembatan Ngantru, kami bertolak ke kanan menuju arah Sendang, dan di perempatan traffic light selanjutnya berbelok ke kiri mengikuti papan petunjuk Candi Penampihan. Kurang lebih 1 km kemudian kami berbelok ke kanan mengikuti papan penunjuk yang sama. Dari sini perjalanan mulai menemui titik terang, dengan terus mengikuti arahan dari papan-papan serupa akhirnya kami sampai di Desa Geger. Tak ada hambatan serius untuk menuju desa ini, mengingat akses yang tersedia sudah sangat memadai. Baru setelah mendekati kawasan desa, aspal yang tadinya mulus mulai bergelombang dan berlubang. Bahkan setelah masuk di kawasan desa, jalan makadam turut serta memeriahkan perjalanan ini.

Dari tadi ngomongin Penampihan terus.. Emang di sana ada apanya sih?? :mrgreen: Hehe.. Penampihan dulunya merupakan kawasan perkebunan teh yang pengelolaannya berada di bawah POSKOPAD, kini kawasan tersebut telah beralih fungsi menjadi perkebunan sayur dan rumput pakan ternak. Di kawasan ini terdapat dua obyek wisata yang cukup terkenal, yakni Candi Penampihan dan Air Terjun Lawean. Nah tujuan perjalanan ini adalah kedua obyek tersebut.

Sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh, kami sempat mengorek informasi dari warga sekitar untuk sekedar memantapkan langkah. Syukurlah, keterangan yang mereka berikan benar-benar semakin memantapkan langkah kami. Isu-isu terkait kondisi jalan di 3 km terakhir kini tinggalah dongeng, sebab jalanan menuju Penampihan telah di beton. Tanpa basa-basi kami pun melanjutkan perjalanan untuk segera menginjakkan kaki di tujuan pertama kami ”Candi Penampihan.”

Candi Penampihan

Setiba di Candi Penampihan kami disambut oleh rombongan lain yang tengah memarkir kendaraan. Sempat terjadi percakapan singkat di antara kami. Setelah kami tanyai, ternyata tujuan mereka adalah Air Terjun Lawean, sedangkan keberadaan mereka di sekitar candi hanya untuk menitipkan kendaraan saja. Wah kebetulan banget dapat temen.. nantinya kami akan menyusul mereka setelah dari candi. Tak mau kehilangan banyak waktu, kami langsung menuju ke bangunan candi dan bertemu juru kunci. Seperti biasa, saya yang menghadapi juru kuncinya, sedangkan yang lain langsung eksplor ke bangunannya. Berdasarkan perbincangan dengan juru kunci, kami pun memperoleh keterangan yang mendalam mengenai candi ini baik dari sejarah maupun mitos.

Catatan awal mengenai Candi Penampihan ditulis oleh J.L.A Brandes pada tahun 1913. Berdasarkan angka tahun yang termuat dalam prasasti di muka candi, diketahui bahwa bagunan ini didirikan oleh Dyah Balitung dari Kerajaan Mataram kuno pada tahun 820 Saka/ 898 M. Namun Prasasti tersebut merupakan prasasti tinulat (tiruan) yang dibuat pada era Majapahit. Keberadaan prasasti tersebut menunjukkan bahwa bangunan Candi Penampihan tetap digunakan di era kerajan-kerajaan selanjutnya. Hal tersebut semakin dipertegas dengan temuan prasasti lain berbentuk lempengan logam dari era Singosari. Sedangkan dari tinggalan-tinggalan yang ada, kemungkinan lokasi Candi Penampihan telah digunakan sebagai tempat pemujaan sejak zaman prasejarah. Ini dibuktikan dengan adanya formasi batuan berdenah segi empat serta tangga yang diperkirakan telah ada sejak zaman batu.

Candi Penampihan terdiri dari tiga teras dengan bangunan utama berada di teras teratas. Bangunan utama Candi Penampihan berbentuk kura-kura yang dililit naga. Bentuk tersebut merupakan penggambaran Kurma (avatara ke dua dari dewa Wisnu yang berwujud kura-kura raksasa) yang dililit Naga Basuki dalam rangka membantu para dewa dan asura untuk memperoleh tirta amerta. Berdasarkan penggambaran tersebut, diduga fungsi Candi Penampihan adalah untuk melakukan prosesi Samudra Mantana guna memperolah tirta amerta. Prosesi tersebut menyebabkan timbulnya banyak mata air di Gunung Wilis, sehingga gunung yang semula aktif menjadi tidak aktif.

Dari sisi mitos, Candi Penampihan dikaitkan dengan kisah penolakan yang dialami oleh seorang pembesar dari Ponorogo. Alkisah ia ingin mempersunting seorang putri dari Kediri, namun sang putri menolaknya kalaupun diterima sang putri memberikan syarat yang bermacam-macam. Merasa kecewa, ia pun menuju lereng Wilis kemudian membangun Candi Penampihan.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang kami perbincangkan dengan juru kunci, namun itu semua hanyalah untuk menjalin keakraban. Selanjutnya kami mulai menanyakan mengenai rute menuju Air Terjun Lawean. Menurut keterangan beliau, air terjun tersebut dapat ditempuh dalam waktu 1 jam dengan melewati rimbunnya belantara dan menyeberangi 9 sungai. Setelah mendengar penjelasan tersebut kami pun berpamitan dan bersiap memulai perjalanan.

Air Terjun Lawean

Ada banyak ejaan mengenai air terjun ini entah Lawean, Laweyan, atau Lawehan, tapi yang dimaksud adalah sebuah air terjun bercabang di belantara Dusun Turi, Desa Geger, Sendang. Sebelum membahas air terjun tersebut lebih lanjut, akan kami kisahkan bagaimana kondisi rute yang harus ditempuh. Sebelum memasuki hutan belantra, ada dua rute yang dapat ditempuh, yakni melalui samping candi atau mengikuti jalan beton. Rute yang kami pilih adalah rute jalan beton.  Kami menyusuri jalanan beton hingga pertigaan ke dua, setelah itu kami mulai menghadapi jalan setapak yang menanjak. Meski sedikit membingungkan akhirnya kami mampu mendekat ke belantara. Setelah menjumpai sungai, perjalanan pun mulai memasuki gelapnya hutan yang berpadu dengan suasana kabut.

Memang banyak kengerian yang harus dihadapi di dalam hutan. Mulai dari rimbunnya vegetasi hingga harus berulangkali menyeberangi aliran sungai. Puncak kengerian itu terjadi setelah kami mampu menyusul rombongan yang kami temui di candi tadi, tepatnya di sungai ke Sembilan. Langkah mereka terhenti karena dihadang oleh seekor ular yang sedang dede di tengah jalan. Di tengah situasi tersebut, dengan bersama-sama kami mencoba mengumpulkan keberanian. Kenekatan kami ternyata lebih besar dibanding bisa ular sekalipun. Salah seorang dari kami pun memberanikan diri untuk menyingkirkan ular. Tegang memang, tapi akhirnya semua ini dapat dilalui dengan selamat. Akhirnya setelah menempuh waktu 1,5 jam, kami sampai pada klimaks perjalanan ini “Air Terjun Lawean.”

Air Terjun Lawean memiliki ketinggian sekitar 100 m, puncaknya tidak terlihat dengan bebas karena terhalang rimbunnya vegetasi sekitar. Air terjun ini berteras-teras dan terbelah menjadi dua bagian, sehingga tercipta dua air terjun di bagian bawahnya. Sebenarnya kami sempat memperoleh moment ketika puncak air terjun ini terlihat, tapi sayang kabut tiba-tiba turun sehingga menutupinya. Bersamaan dengan turunnya kabut kami pun memulai perjalanan untuk pulang.

Memang hanya sekejap saja kami merasakan eksotika Air Terjun Lawean, tapi itu semua sudah cukup. Apalagi dari perjalanan ini kami memperoleh teman-teman baru. Meski hanya pertemuan singkat dan belum sempat memperkenalkan diri, tapi semua ini sungguh berkesan. Kami berharap di perjalanan-perjalanan selanjutnya dapat berjumpa kembali dan tersyum bersama. Semoga keinginan ini kelak dapat terwujud..


Writer : Galy Hardyta

Sumber :

  • Juru Kunci Candi Penampihan

Participant : Galy, Kcing, Meitika, Uliv

4 Comments

  1. mas-mas mbak-mbak d’travellers09, saya Mahasiswa UM dari Tulungagung sedang skrispsi tentang wisata di tulungagung termasuk wisata sejarah berupa candi-candi di Tulungagung. saya sudah survey ke tempat2 wisata dan mendokumentasikannya buat skripsi saya tapi saya kekurangan gambar dokumentasi tentang candi2 di Tulungagung. saya lihat di Blog ini sangat lengkap mengulas tmpat2 wisata termasuk candi-candi di Tulungagung dan menjadi lebih mengerti tentang wisata2 di Tulungagung. apakah saya diperkenankan untuk mengambil beberapa gambar candi2 dari blog ini untuk saya masukkan salam skripsi saya?

  2. oh monggo mas.. 😀 semoga bermanfaat.. semoga skripsinya cepat kelar… amin…

  3. aseekkk…..sangat-sangat berterimakasih banyak……..sekali lagi trimakasih 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *