Skip to content

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 2

Candi Tepas.

Candi Tepas memang telah runtuh. Batu-batu penyusunnya bahkan sudah aus dan bentuknya tidak lagi balok. Bentuk batu candinya yang aus, membuat seolah olah candi ini tersusun dari batu yang lonjong.

Lokasi dan Rute

Candi Tepas berada di sebelah utara Pura Desa Tepas. Secara administratif candi ini masuk dalam wilayah Desa Tepas, Kec. Kesamben, Kab. Blitar. Rute menuju Candi Tepas adalah sebagai berkut: dari Kota Blitar arahkan perjalanan ke timur ke arah Malang hingga tiba di Kec. Kesamben. Sesampai Terminal Kesamben ke timur sedikit. Pertigaan arah SMKN 1 Doko belok ke kiri ke arah utara (ke arah Wisata Gogoniti) sampai tiba di Desa Tepas. Selanjutnya perhatikan papan petunjuk arah menuju candi yang terletak di kiri jalan.

Deskripsi Candi

Candi Tepas menghadap ke arah barat. Candi ini telah runtuh. Strukturnya berdenah persegi dengan ukuran 7.80 x 7.80 m dan tingginya saat ini tinggal 4.48 m. Sebagian besar bahan penyusun candi ini adalah batu trasit, yakni jenis batuan beku yang mudah aus. Karena keausannya cukup parah, banyak batu penyusun candi yang sudah tidak berbentuk balok. Sebagian besar batu sudah berbentuk lonjong. Hal ini justru membuatnya semakin unik, karena seolah olah struktur candinya disusun dari batu yang berbentuk lonjong. Selain batu trasit, candi ini juga disusun dengan batu bata pada bagian fondasinya.

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 3

Candi dilihat dari samping, tampak sisa-sisa dinding kaki candi yang masih utuh.

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 4

Candi dilihat dari belakang.

puncak candi tepasSisa tubuh candi saat ini.

Candi Tepas saat ini tinggal menyisakan bagian kaki dan sedikit tubuh candi. Pada bagian kaki candi, masih terdapat bagian dinding yang belum aus. Dinding tersebut polos tanpa adanya relief maupun ornamen hias. Berdasarkan hal tersebut, Hamzah (2011) dalam skripsinya berpendapat bahwa Candi Tepas bercorak Buddha karena dikaitkan dengan konsep “sunyata”. Dalam Kitab Nagarakrtagama atau Kakawin Desawarnana pupuh 76 disebutkan mengenai sebuah wilayah kuno bernama “Tpas Jita” yang berada dalam pengawasan Dharmadhyaksa ri Kasogatan (pejabat pengurus agama Buddha) Kerajaan Majapahit. Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apakah “Tpas Jita” dalam Nagarakrtagama tersebut merujuk pada Candi Tepas di Blitar. Sebab nama “Tpas” juga disebut dalam pupuh 32. “Tpas” pada pupuh 32 ini dijelaskan berdekatan dengan sebuah candi Buddha di wilayah Pajarakan (Lumajang).

Selain struktur candi, struktur pagar keliling Candi Tepas masih dapat dijumpai. Struktur pagar tersebut tersusun dari batu bata berdenah persegi panjang. Struktut pagar keliling tersebut berada diluar pagar kawat pelindang candi saat ini. Struktur pagar keliling memanjang hingga ke kebun di barat candi dan terbelah oleh jalan desa. Pada sudut pagar keliling terdapat lingga patok (lingga semu). Lingga patok tersebut ada yang masih in situ dan ada yang sudah berpindah lokasi ke pemukiman masyarakat setempat.

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 5

Struktur pagar keliling tersusun dari batu bata.

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 6

Syaiful dan Adon menunjukkan struktur pagar keliling yang terpotong oleh jalan desa.

Candi Tepas, Candi Batu Trasit yang Unik di Blitar 7

Salah satu lingga patok.

Sejarah

Dalam berbagai laporan inventaris dan penelitian, belum pernah dilaporkan adanya relief atau temuan arca pada Candi Tepas. Oleh karena itu kesejarahan Candi Tepas belum dapat dianalisa dari sisi ragam hias. Hamzah (2011), dalam skripsinya berpendapat bahwa candi ini berasal dari periode Majapahit. Pendapat tersebut didasarkan pada salah satu wilayah Buddha bernama “Tpas Jita” yang disebut dalam pupuh 76 Kitab Nagarakrtagama. Berikut kutipannya:

Lwirnin darmma kasogatan kawinayanu lpas i wipularama len kuti haji, mwan yanatraya rajadanya kuwunatha surayaca jarak / lagundi wadari, wewe mwan packan / pasarwwan i lmah surat i pamanikan / sranan / paniktan, panhapwan / damalan tpas / jita wannacrama jnar i samudrawela pamulun.

Artinya:

Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Jantraya, Rajadanya, Kuswanata, Surayasa, Jarak, Lagundi serta Wadari. Wewe Pacekan, Pasuruhan, Lemah Surat, Sangan serta Pangiketan. Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.

Riwayat Pelestarian

Candi Tepas sering diulas dalam berbagai laporan inventaris seperti Oudheden van Java tahun 1891 oleh Verbeek, termuat dalam ROD tahun 1913 dan Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst tahun 1923 oleh Krom. Beberapa upaya pelestarian juga sudah dilakukan oleh SPSP (sekarang BPCB) Jawa Timur, termuat dalam Laporan Pemetaan dan Penggambaran Candi Tepas tahun 1998 dan Laporan Konsolidasi Candi Tepas tahun 2001. Dilakukan pula penelitian oleh Hamzah pada tahun 2011 yang ditulis dalam skripsinya berjudul Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas.


Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon & Galy

Sumber:

  • Kakawin Desawarnana
  • Hamzah, A.A.J. 2011. Identifikasi Bentuk Arsitektur Candi Tepas. Skripsi. Universitas Indonesia. Depok

Participant : Adon, Galy, Syaiful

One Comment

  1. sunarti sunarti

    tempatnya asri,bersih

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!