Skip to content

Menelusuri Kemegahan Kerajaan Kadiri yang Hilang

Kerajaan Kadiri/Daha/Panjalu adalah salah satu kerajaan Hindu-Budha yang pernah berkuasa di Pulau Jawa. Keberadaan kerajaan ini tidak lepas dari peristiwa berpindahnya pusat pemerintahan raja-raja dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Diriwayatkan bahwa raja-raja Kerajaan Kadiri merupakan keturunan Airlangga (Pendiri Kerajaan Kahuripan sekaligus penerus Dinasti Isyana yang merupakan dinasti awal periode pemerintahan raja-raja Jawa Tengah di Jawa Timur).

Kerajaan Kadiri lebih dikenal dengan peninggalan-peningglan berupa kesusastraan dari pada peninggalan-peninggalan arsitektural. Tercatat hanya beberapa saja peninggalan-peninggalan arsitektural yang telah ditemukan, misalnya Arca Totok Kerot, Candi Penataran, dan Goa Selomangleng.

Awal tahun 2007 misteri peninggalan-peninggalan arsitektural Kerajaan Kadiri mulai terkuak, dimulai dari penemuan beberapa arca di Dusun Tondowongso hingga penemuan bekas bangunan kuno di Dusun Babadan. Penemuan tersebut sempat menjadi perhatian masyarakat maupun pemerintah. Hal tersebut tentunya juga menarik perhatian kami(meski terlambat). Kini setelah beberapa tahun dari penemuan tersebut kami berusaha meninjau tempat-tempat tersebut, sekaligus ingin menyaksikan bukti-bukti kemegahan Kerajaan Kadiri yang dipercaya menampilkan gaya arsetektural peraliahan. Berikut hasil liputan kami setelah melakukan peninjauan pada situs-situs tersebut:

Situs Tondowongso

Situs Tondowongso pertama kali ditemukan pada awal tahun 2007 oleh warga yang sedang membuat batu-bata di Dusun Todowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah. Pada situs seluas satu hektar ini pernah ditemukan arca-arca dengan ciri keagamaan Hindu. Arca-arca tersebut antara lain, Arca Dewa Brahma, Dewa Siwa, Dewi Durga, Nandi, dan lingga yoni. Kini arca-arca tersebut telah diamankan dan diteliti di Trowulan. Di lokasi penemuan tersebut juga ditemukan reruntuhan bangunan kuno yang tersusun dari batu bata, bangunan tersebut diperkirakan adalah bekas bangunan pemujaan. Berdasarkan penyelidikan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, situs ini diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri pada abad XI[1].

Seperti tulisan yang dimuat dalam tempointeraktif, kondisi situs yang dikabarkan terlantar setelah setahun penemuannya ini  belum mengalami perubahan hingga peninjauan kami kemarin. Kondisi Situs Tondowongso masih terlantar, rumput liar tumbuh dimana-mana dan bekas galiannya digenangi air. Ironisnya genangan air tersebut justru dijadikan tempat pemancingan oleh warga sekitar.

Syukurlah dalam peninjauan kemari sudah mulai terlihat adanya upaya pembenahan terhadap Situs Tondowongso. Upaya tersebut antara lain pemasangan papan peringatan dan papan penujuk arah yang tampaknya baru. Semoga hal tersebut segera dibarengi dengan upaya serius utuk menyelamatkan situs warisan Kerajaan Kadiri ini.

Situs Sumber Cangkring

Situs Sumber Cangkring, begitulah lokasi penemuan bekas bangunan kuno di Dusun Babadan, Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah ini disebut. Oktober 2008 silam tepatnya di sebelah utara Lapangan Sumber Cangkring, beberapa warga yang sedang membuat batu bata menemukan benda-benda aneh saat menggali tanah. Ternyata benda-benda tersebut adalah fragmen-fragmen candi berupa kala, arca dwarapala, potongan kepala arca, dan arca ganesa. Penemuan tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh pihak pemerintah dan dinas terkait.

Diperkirakan  bentuk arsitektur banguan kuno yang ditemukan di Dusun Babadan ini memiliki kemiripan dengan candi-candi paninggalan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah. Ciri tersebut terlihat pada bentuk kalanya yang memiliki kemiripan dengan kala pada candi-candi di Jawa Tengah[2].

Rupanya nasib situs Sumber Cangkring tidak jauh berbeda dengan nasib Situs Tondowongso. Saat peninjauan kami kemarin, yang tersisa dari situs ini tinggalah bekas galian dan sebuah arca yang masih terpendam sebagian. Sepintas arca tersebut berkenampakan seperti arca dwarapala, tapi kami tidak mengetahuai apakah arca tersebut adalah arca dwarapala yang ditemukan pada tahun 2008 silam atau bukan. Sayang sekali kami tidak menjumpai satu pun warga di area penemuan tersebut, sehingga kami tidak memperoleh keterangan dimana fragmen-fragmen temuan tersebut sekarang disimpan.

Arca Totok Kerot

Arca yang keberadaanya telah diketahui sejak tahun 1981 ini adalah bukti lain peninggalan dari era Kerajaan Kadiri. Adanya ornamen candrakapala pada dahi Arca Totok Kerot ini menjadi bukti penegas bahwa arca tersebut memang berasal dari era Kerajaan Kadiri. Candrakapala adalah lambang Kerajaan Kadiri berupa ornamen tengkorak di atas bulan sabit[3]. Lebih tepatnya lagi candrakapala adalah lambang atau lancana Kerajaan Kadiri dari era Raja Kameswara yang memerintah dari 1115 sampai 1130 Masehi. Hal ini perlu ditegaskan sebab hampir setiap raja Kerajaan Kadiri memiliki lancana kerajaannya masing-masing antara lain: Jayabhaya (1130-1160) dengan lancananya berupa narasingha; Aryyeswara (1170-1180) dengan lancananya berupa ganesa; Srngga (1190-1200) dengan lancananya berupa cangkha diatas bulan sabit (cangkha adalah kerang bersayap); dan Krtajaya (1200-1222) dengan lancanaya berupa garudamukha seperti pada era Airlangga [4].

Situs peninggalan Kerajaan Kadiri ini berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu. Kondisi lingkungannya bisa dibilang cukup terawat. Hal ini terlihat dari penatan dan kebersihan taman di sekeliling arca. Selain itu situs ini juga telah berpagar pelindung dan memiliki pos jaga di dekatnya.

Arca Totok Kerot sebenarnya adalah subuah arca dwarapala, namun arca ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai penjelmaan seorang putri dari Lodoyo Blitar. Alkisah putri tersebut berubah menjadi Arca Totok Kerot akibat dikutuk oleh Jayabaya karena telah berbuat onar di Daha.

Terlepas dari legenda diatas, Arca Totok Kerot menjadi bukti perkembangan seni pahat pada era Kerajaan Kadiri. Pahatan pada Arca Totok Kerot ini cukup mendetail, baik pahatan pada candrakapala maupun pada bagian yang lain. Jika diamati dengan seksama, akan tampak pahatan tipis berbentuk sulur pada sebagian permukaan arca.


Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir :  September 2011

Sumber :

Participant: Galy, Kcing, Meitika

2 Comments

  1. mohd yosdi mohd yosdi

    Saya dari johor,malaysia.saya suka banget sama situs totok kerot ini,salam perkenalan !

  2. salam kenal juga Mohd Yosdi. Silahkan datang ke kediri untuk melihat arca totok kerot. Kalau perlu bantuan kami bisa membantu 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *