Skip to content

Kekunaan Tamansari dan Makam Kyai Moh Dahar Nganjuk, Dua Peninggalan Sejarah dalam Satu Lokasi

Kekunaan Tamansari dan Makam Kyai Moh Dahar Nganjuk, Dua Peninggalan Sejarah dalam Satu Lokasi 9

Penyebutan Kekunaan Tamansari di lokasi Makam Kyai Moh Dahar ini sedikit membingungkan. Secara administratif kelompok benda cagar budaya ini masuk dalam Lingkungan Tamansari, Kel. Kauman, namun jika dirunut dari asal usulnya benda-benda ini diperoleh dari Desa Patihan, Kec. Loceret.

Deskripsi Kekunaan

Kekunaan Tamansari dan Makam Kyai Moh Dahar Nganjuk, Dua Peninggalan Sejarah dalam Satu Lokasi 10

Kekunaan Tamansari terdiri dari dua buah benda cagar budaya berbentuk menyerupai altar. Salah benda memiliki 49 lubang di permukaannya dengan susunan 7 x 7 membentuk susunan serupa dakon. Benda ini umum disebut waktu dakon (batu dakon) atau batu kalamangsa. Batu dakon ini memiliki dimensi panjang 160 cm, lebar 68 cm dan tinggi 30 cm.

Kekunaan Tamansari dan Makam Kyai Moh Dahar Nganjuk, Dua Peninggalan Sejarah dalam Satu Lokasi 11

Benda selanjutnya merupakan altar berinskripsi 1056 Saka. Inskripsi tersebut terpahat pada ujung altar. Benda ini memiliki dimensi panjang 150 cm, lebar 58 cm dan tinggi 30 cm. Kedua benda ini berada di samping makam bersejarah Kyai Moh. Dahar. Benda-benda ini tidak insitu, melainkan berasal dari Desa Patihan, Kec. Loceret.

Makam Kyai Moh Dahar merupakan makam keluarga yang telah dikijing dan berpagar. Di samping pintu pagar terdapat epitaf yang mengisahkan mengenai kesejarahan makam ini.

Sejarah

Kekunaan Tamansari dan Makam Kyai Moh Dahar Nganjuk, Dua Peninggalan Sejarah dalam Satu Lokasi 12

Berdasarkan inskripsi angka tahun yang terdapat pada Kekunaan Tamansari ini, dapat diketahui bahwa benda cagar budaya ini berasal dari era Kerajaan Kadhiri. Tahun 1056 Saka jika dikonversi ke dalam tahun masehi setara dengan tahun 1134. Kurun waktu ini masuk dalam periode antara pemerintahan Raja Bameswara dan Jayabhaya. Selain inskripsi masa klasik yang menarik ini, sejarah makam Kyai Moh Dahar juga cukup menarik.

Dalam epitaf Makam Kyai Moh Dahar, diketahui bahwa dahulu makam ini berada di lokasi yang sekarang menjadi Pendopo Kabupaten Nganjuk. Pada tahun 1880 Makam Kyai Moh Dahar dipindahkan ke Tamansari Kauman, bersama dengan proses pemindahan Pendopo Kabupaten Berbek ke Pendopo Kabupaten Nganjuk yang sekarang. Pemindahan makam ini ditandai dengan sengkalan: Hangontjati Estining Manggala Pradja. Hangontjati bernilai satu, Esti bernilai delapan, Manggala bernilai delapan dan Pradja bernilai satu. Katika angka-angka yang diperoleh dari sengkalan ini di baca dari belakang maka akan menunjukkan tahun 1880.

makam kyai moh dahar

Selain berita mengenai pemindahan makam, pada epitaf ini juga diberitakan mengenai proses pembangunan kembali Makam Kyai Moh. Dahar pada 1 Sura 1893 – 4 Juni 1962. Pembangunan kembali makam ini ditandai dengan sengkalan: Karnan Hangreksa Aruming Widji. Jika dibaca dengan cara yang sama dengan cara membaca di atas, sengkalan ini menunjukkan angka tahun 1962.

Sayang sekali kesejarahan tokoh Kyai Moh. Dahar ini belum banyak dikaji. Berdasarkan Besluit, No 1, 31 Agustus 1830, Bijlage, Semarang, 16 Juni 1831 van Lawick van Pabst tercatat seorang pejabat penghulu Afdeeling Nganjuk bernama Mohamad Tahar. Apakah kedua tokoh ini orang yang sama? Apakah Kyai Moh Dahar ini merupakan pejabat penghulu Afdeeling Nganjuk? Terlalu liar untuk mengatakan iya. Barangkali travelers sekalian ada yang memiliki informasi lebih, silakan disampaikan pada kolom komentar di bawah ya. 😀

Lokasi dan Rute

Benda cagar budaya Kekunaan Tamansari bersama Makam Kyai Moh. Dahar secara administratif terletak di Kelurahan Kauman, Kec./Kab. Nganjuk. Bagi travelers yang tertarik berziarah ke Makam Kyai Moh Dahar, kalian dapat berpatokan dari Bundaran Tugu Adipura Nganjuk. Silakan lakukan perjalanan ke arah Terminal Anjuk Ladang. Tak perlu terlalu jauh sampai ke terminal, setelah jembatan silakan belok kanan ke Jl. Citarum. Selanjutnya kalian dapat bertanya pada masyarakat setempat mengenai keberadaan makam ini. Lokasi makam ini juga tak jauh dari Museum Anjuk Ladang, pas banget kalau kalian melanjutkan perjalanan ke sana untuk mengenal lebih dalam mengenai peninggalan-peninggalan sejarah di Nganjuk.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Besluit, No 1, 31 Agustus 1830, Bijlage, Semarang, 16 Juni 1831 van Lawick van Pabst dalam Siswanto, D.T.B. dan S.N. Lestari. Afdeeling Berbek Pasca Pemindahan Ibukota: Tinjauan Historis Perkembangan Nganjuk sebagai Pusat Pemerintahan Baru, 1880-1901. MUKADIMAH. 2(1). 1-10

Selftraveling

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!