Skip to content

Jalan-jalan Trenggalek Rantas Tulungagung

Ternyata sudah lama juga kami tidak melakukan perjalanan secara rantasan, terakhir kalinya terjadi pada November 2011 kemarin, ketika kami menjelajahi goa-goa di Blitar. Syukurlah setelah dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya berjibaku dengan obyek-obyek tunggal seperti Molang, Ironggolo, dan Pasir Putih Tasikmadu, akhirnya kali ini kami berkesempatan kembali untuk melakukan perjalanan secara rantasan. Bahkan untuk perjalanan ini jangkauannya didua kabupaten sekaligus, yakni di Trenggalek dan Tulungagung.

Trenggalek

Mendung yang menggulung mendesak kami untuk segera memutuskan tujuan perjalanan. Terinspirasi oleh papan-papan reklame Goa Lowo yang kami jumpai dalam perjalanan ke Trenggalek sebelumnya, akhirnya Goa Lowo pun menjadi tujuan perjalanan ini.

Goa Lowo

Goa Lowo merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Trenggalek. Goa ini ditemukan pada tahun 1931 dan difasilitasi sejak tahun 1983, sehingga ketenaran goa ini tak perlu ditanyakan lagi.

Secara administratif Goa Lowo berada di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo. Untuk menuju ke lokasi goa, kami menyusuri rute yang sama dengan rute menuju Pantai Prigi dan sekitarnya. Dari Pasar Durenan kami bertolak ke arah Kecamatan Bandung Tulungagung, selanjutnya setiba di Pasar Bandung kami berbelok ke kanan dan terus menyusuri jalanan hingga akhirnya sampai di Kecamatan Watulimo. Kini Goa Lowo tinggal 0,75 km lagi, sehingga kami pun semakin bersemangat. Tak seberapa lama kemudian kami tiba di Kawasan Wisata Goa Lowo.

Setelah menyelesaikan segala administrasi kami segera meluncur ke lokasi Goa Lowo berada. Kedatangan kami langsung disambut oleh patung Sri Ratu Lowo. Entah apa maksud dari keberadaan patung ini, mungkin saja terkait dengan mitos setempat. Ternyata selain patung Sri Ratu Lowo, dijumpai pula patung-patung lain seperti Lowo Cakra dan Lowo Gada.

Ah.. dari pada bingung memikirkan maksud dari patung-patung tersebut kami pun terus berlalu dan langsung mendekati mulut goa.

Tak ada suasana mencekam ketika kami mulai memasuki mulut goa, yang ada hanyalah rasa kagum menatap keindahan keajaiban alam ini. Tak perlu pula repot-repot untuk menikmati keindahan stalaktit dan stalakmitnya, sebab fasilitas di dalam goa sudah sangat memadai. Lampu-lampu hias telah siap menerangi pandangan para pengunjung, jalan beton juga tersedia untuk memanjakan langkah pengunjung sehingga terhindar dari aliran sungai dari dalam goa. Fasilitas yang paling unik dan berkesan adalah keberadaan speker di sudut-sudut goa yang membuat suasana menjadi full musik. Mau lagu-lagu khosidah bisa.. Mau dangdut koplo juga bisa hehe..

Kami terus merangsek kedalam goa sambil mengabadikan batu-batu unik yang kami jumpai selama berjalan. Sayangnya kamera kami kurang mumpuni di kegelapan, sehingga kami hanya megabadikan obyek-obyek yang terjangkau oleh kamera saja.

Sebenarnya masih ada batu-batu lain seperti batu tatar, batu gantung, batu tugu, batu menara, dan sumber air awet muda, tapi kami tidak sempat mengabadikannya sebab keburu kehabisan batrai.

Semakin masuk kedalam, suara decitan kelelawar semakin terdengar jelas. Bau kotoran kelelawar pun juga semakin menyengat. Tampak diatas langit-langit sebuah cerukan yang dihuni oleh sejumlah kelelawar. Tak jauh setelah melewati sarang kelelawar tersebut, akses jalan beton pun terhenti. Dari ujung jalan tersebut tampak sebuah loroang yang masih tersisa untuk disusuri, diperkirakan masih 1,1 km lagi mengingat kemungkinan goa ini memiliki panjang 2 km dan akses yang tersedia baru sepanjang 900an m. Mengingat notabene kami orang jauh, maka kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami pun mulai beranjak keluar goa bersama rombongan lainnya. Keluarnya kami dari mulut Goa Lowo menandai akhir dari perjalanan di Trenggalek.

Tulungagung

Terpilihnya jalan raya Bandung-Campurdarat sebagai jalur kepulangan kami, ternyata memberikan  berbagai kejutan. Secara tidak sengaja kami menjumpai Situs Kanigoro. Perjumpaan dengan situs tersebut telah memotivasi kami untuk menambah koleksi tempat-tempat bersejarah di Tulungagung.

Situs Kanigoro

Situs Kanigoro atau dikenal sebagai Punden Mbah Kanigoro terletak di Dusun Campur Janggrang, Desa Campurdarat. Untuk menuju lokasi situs ini, kami tinggal menyusuri jalan sempit di barat Balai Desa Campurdarat sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh papan.

Situs Kanigoro terdiri dari makam kuno, arca Genesa, lingga, umpak, pilar batu, dan beberapa batu kuno. Banda-benda cagar budaya tersebut tersebar di beberapa titik, bahkah ada yang masih terpendam sebagian.

Ditinjau dari adanya umpak dan pilar, kemungkinan pada awalnya Situs Kanigoro merupakan sebuah bangunan, bukan makam keramat seperti yang tampak saat ini. Memang pada saat itu kami tidak memperoleh keterangan apa pun terkait situs ini, tapi dengan adanya lingga dan arca ganesa, kemungkinan besar situs ini berlatar belakang agam Hindu.

Setelah kemput mengamati setiap sudut dari Situs kanigoro, kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sebenarnya disepanjang jalur pulang ada banyak tempat-tempat bersejarah yang kami lewati. Mengingat sebagian dari tempat-tempat tersebut telah kami kunjungi, maka kami lebih berkonsentarsi pada tempat-tempat yang baru. Pilihan kami pun jatuh pada Situs Aryo Jeding.

Situs Aryo Jeding

Situs Aryo Jeding terletak di Desa Aryo Jeding, Rejotangan. Lokasinya agak masuk ke pemukiman warga, sehingga situs ini tidak terlihat dari jalan raya Tulungagung-Blitar. Ancer-ancer termudah menuju situs ini adalah dengan memperhatikan sebuah tower di sisi utara Desa Aryo Jeding, atau lebih jelasnya bertanya pada warga sekitar dengan keyword sitihinggil. Setelah sempat berputar-putar, akhirnya kami pun sampai di situs tersebut.

Situs Aryo Jeding memiliki berbagai sebutan, mulai dari Candi Nilosuwarno hingga Sitihinggil, bahkan awalnya kami sempat menyamakan situs ini dengan Makam ki Ageng Senguruh karena ketidak tahuan dan lokasi kedua situs yang berdekatan. Kurang jelas mengapa begitu banyak sebutan untuk situs ini, tapi yang menarik adalah sebutan sitihinggil (tempat yang tinggi/ balai). Apakah sebutan tersebut mencerminkan bagaimana bentuk asli dari situs yang telah runtuh ini?? Yang jelas di reruntuhan situs ini masih dapat ditemukan beberapa kala, yoni, arca-arca dan beberapa komponen candi lainnya.

Setelah beberapa menit main tebak-tebakan di Situs Aryo Jeding , akhirnya kami putuskan untuk mengakhiri perjalanan ini. Blitar sudah dekat, maka berakhir pula perjalanan rantasan ini dengan segala teka-tekinya yang membingungkan.


Writer : Galy Hardyta

Participant : Galy, Kcing, Lia, Uliv

5 Comments

  1. salam 😀
    maturnuwun sudah mampir…

  2. wowww.ternyta banyak ya situs bersejarah tapi qk gk banyak yang tahu ya.salut dech……

  3. situs peninggalan lama harus kita lestarikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *