Skip to content

Jalan-jalan Berhadiah Dari Goa Tritis

Goa Tritis merupakan salah satu dari sekian banyak cagar budaya kliasik di Kabupaten Tulungagung. Seperti halnya cagar budaya klasik lain di Tulungagung, goa ini berada di sekitar rangkaian Pengunungan Selatan, yakni berada di lereng Gunung Budeg, Desa Tanggung, Campurdarat. Memang hanya tersedia jalan setapak untuk menuju lokasi Goa Tritis, namun dengan ketinggian gunung yang kurang dari 1000 m, tentunya lokasi tersebut tidak akan terlalu sulit untuk dijangkau. Berangkat dari pertimbangan tersebut, kami pun memberanikan diri untuk menyambangi Goa Tritis meski tengah menjalankan ibadah puasa.

Goa Tritis

Dari arah Blitar utara, kami memilih rute Ngantru sebagai patokan perjalanan menuju Campurdarat. Meski sebelumnya kami telah memindai rute tersebut dari angkasa, namun perjalanan kami tidak berlangsung mulus. Ketidak tahuan kami mengenai sejumlah lajur searah di Tulungagung, membuat kami harus berputar-putar terlebih dahulu sebelum menemukan rute yang sesuai. Setelah bertanya kepada pengguna jalan lain, akhirnya kami menemukan rute yang sesuai, dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di Desa Tanggung.

Setibanya di Desa Tanggung, dan setelah sepintas melihat rute pendakian ke Goa Tritis, perjalanan jauh yang telah kami lalui serasa tak berati. Bagaimana tidak? Ternyata rute tersebut gersang dan terjalnya minta ampun. Baru beberapa langkah kami berjalan, tebing batu dan sejumlah medan terjal lain sudah menghadang untuk didaki. Namun kondisi tersebut justru menambah kekaguman kami terhadap pengelolaan kawasan cagar budaya ini. Karena, rute pendakian yang tersedia terkesan tidak mengubah kenampakan alami dari bentuk geografis Gunung Budeg.road to goa tritis (1)

road to goa tritis (2)Kurang lebih 300 m sebelum sampai di Goa Tritis, kami menjumpai sebuah mata air lengkap dengan cerukan penampung air. Disekitar mata air tersebut terdapat bebarapa formasi batu bata kuno, sehingga kemungkinan mata air ini memiliki kaitan dengan Goa Tritis. Mata air seperti ini memang biasanya tersedia di sekitar tempat peziarahan dan digunakan untuk menyucikan diri bagi para peziarah yang ingin mengunjugi tempat-tempat suci.

Tepat setalah melalui mata air tersebut, terdapat dua percabangan jalan. Percabangan sebelah kanan mengarah ke Batu Joko Budeg dan yang sebelah kiri mengarah ke Goa Tritis. Semakin dekat dengan lokasi Goa Tritis maka akan semakin dijumpai batu-bata kuno yang berserakan, bahkan sebagian lagi masih membentuk formasi bangunan.

Setelah melaui perjalanan panjang, akhirnya kami pun sampai di lokasi Goa Tritis. Di Lokasi Goa Tritis dapat dijumpai sejumlah sturktur bangunan yang tersusun dari batu bata serta sejumlah ceruk. Struktur bangunan yang masih tersisa adalah pagar dan altar. Di atas altar tersebut terdapat sejumlah benda cagar budaya seperti arca dan beberapa batu yang kemungkinan adalah perapih. Arca tersebut berwujud tokoh wanita yang duduk di atas padmasana. Dalam catatan Inventarisasi Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak di Kabupaten Tulungagung, arca tersebut memiliki kronogram 1082 sehingga kemungkinan Goa Tritis berasal dari era Kerajaan Kadiri. Memang jika diperhatikan, struktur bangunan di Goa Tritis serupa dengan Situs Besole yang juga berasal dari era Kerajaan Kadiri.

Rupanya kami tidak dapat berlama-lama di lokasi Goa Tritis. Suasana yang lembab di sekitar goa merupakan tempat yang cocok untuk sarang nyamuk. Jadi, sebelum sempat menjadi santapan nyamuk-nyamuk hutan,  kami putuskan untuk beranjak dan melanjutkan perjalanan.

Museum Daerah Tulungagung

Di tengah perjalanan menuju Goa Tritis, kami sempat melihat pemandangan yang tidak lazim. Kami sangat terheran-heran ketika melihat sejumlah prasasti yang dijajar di pinggir jalan. Tapi kendaraan kami terlanjur laju, sehingga kami putuskan untuk menyambangi tempat tersebut setalah dari Goa Tritis. Syukurlah setelah beranjak dari Goa Tritis, kami berkesempatan untuk mampir dan sekedar mencari tahu mengenai tempat tersebut.

Benar 😉 ternyata tempat tersebut adalah Museum Daerah Tulungagung. Betapa gembiranya kami, tak disangka kami berkesempatan mengunjungi museum yang menyimpan benda-benda cagar budaya dari antero Tulungagung. Museum yang berlokasi di Jalan Raya Boyolangu Km 4 ini baru dibangun pada tahun 1996 silam dan koleksinya berasal dari pendopo Kabupaten Tulungagung. Berikut beberapa koleksi Museum Daerah Tulungagung yang diam-diam kami abadikan 😈

arca agastya
arca bima
arca budha
arca mina
arca perwujudan
arca skanda
arca wisnu
budha aksobya
dwarapala
jaladwara
kala
nandi
narasima avatara
yoni

Koleksi lain

batu candi
tembikar
prasasti

Perbincangan singkat dengan petugas museum menjadi penghantar kepulangan kami dari perjalanan ini. Semoga ada kejutan-kejutan lain yang menanti diperjalanan-perjalanan kami selanjutnya 😀


Writer : Galy Hardyta

Sumber :

  • Inventarisasi Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak di Kabupaten Tulungagung

Participant: Galy, Meitika

4 Comments

  1. Pein Pein

    Peh, dolan maneh ra ngomong2
    Udah dibilangin kan kalo ada museumnya 😀
    Batu bata di bawah sendiri cantik

    Emang, museumnya mencolok mata karena prasastinya gede2……
    Gua Tritis juga banyak menyedot perhatianku,
    Kalo diterusin ke tanggunggunung masih ada Kjokkenmaddinger yg insitu
    Beberapa sudah diboyong ke museumnya…….

    Kalo awas, masih di Jalan Boyolangu ada air terjunnya lho
    Mungkin airnya agak surut kalo ga hujan kek gini ^^

  2. Beh jan sory mas pein.. sing ini bener2 super ndadak, g ada planing khusus dan langsung berangkat gitu ae.. 😀
    matur nuwun info-infonya, kjokenmaddinger itu tinggalan prasejarah ya?? insyaAllah besok-besok kalo maen lagi bisa mampir, tapi kemungkinan ga kami liput. Kami konsen ke tinggalan hindu budha saja, itupun non prasasti..

  3. Hahaha,
    Ga pa2 diliput, itukan juga termasuk sejarah
    Embat aja lagi, lumayan jadi pengetahuan, karena juga banyak lho pemukiman prasejarah yang terus dihuni hingga masa Islam ^^

    Ayo jalan2 ke BP3 trowulan,
    Kita ubek2 kantornya, tapi janjian dulu sama mbaureksonya 😀

  4. Hehehe.. InsyaAllah.. 😀
    Hem kapan ya, bisanya?? Bukannya g mau, tapi travellers masih mau ada hajatan buat nyambut kedatangan Tiko. Pastinya jadwal kami bakal padet.
    Coba mas Pein hubungi langsung Riezta di FB…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *