Skip to content

Ekspedisi Jurug Dringo, Berawal dari Cerita Sederhana

jurug dringo blitarPernahkan kalian mendapat tugas mengarang saat masih sekolah? Biasanya tu pas pelajaran Bahasa Indonesia dan setelah liburan. Pasti banyak yang ambil tema “Liburan ke Rumah kakek” atau paman, atau saudara, dan sebagainya. Biasanya garis besar ceritanya juga simple, paling pas berkunjung tiba-tiba diajak main ke tempat-tempat menarik di sekitar rumah saudara. Nah, tak disangka perjalanan kali ini memiliki garis cerita yang sedemikian rupa. Mungkin judul postingan ini perlu diganti kali ya?? “Liburan Ke Rumah Saudara” sepertinya lebih pas. Hehehehehe… 😛 Baiklah, aku coba pakai kalimat pembuka yang paling populer khas anak sekolah aja. “Pada suatu hari” Hahahahaha… 😀

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah saudara di Ngeni, Kec. Wonotirto Blitar. Awalnya aku berkunjung ke rumah saudara dalam rangka silaturahmi, tapi tiba-tiba aku ketemu dengan sahabat karib, Munawar Afandi namanya. Tak seberapa lama pertemuan kami langsung menjurus pada diskusi mengenai keberadaan sebuah air terjun. Masyarakat setempat menyebut air terjun yang kami diskusikan ini dengan nama “Jurug Dringo”. Setelah mengumpulkan informasi dan melakukan persiapan yang cukup, kami pun mulai berangkat menuju Jurug Dringo.

Oke sekedar buat info tambahan, akan aku paparkan rute menuju Ngeni terlabih dahulu. Ngeni adalah sebuah desa yang terletak di mberang kidul, di selatan Lodoyo (Kec. Sutojayan). Jadi rute dari Blitar adalah sebagai berikut: Blitar – Kec. Sutojayan – Perempatan Terminal Lodoyo ke selatan (lurus ke arah pegunungan). Kalau sudah mulai naik ke pegunungan jalannya mulai asik. Menanjak dan berkelok-kelok. 14 Km kemudian akan dijumpai Pasar Ngeni yang ada monumennya di pertigaan pasar. Perjalanan kami sendiri di mulai dari Pasar Ngeni.

Dari Pertigaan Pasar Ngeni kami ke barat (ke kanan kalau dari arah Blitar). Kami menyusuri terus jalan beraspal sampai habis dan menjumpai jalan beton. Perjalanan berlanjut dengan menyusuri jalan beton hingga pemukiman terakhir yang disebut “Kedung Kudi” di Dusun Dringo. Perjalan kami pun sudah dekat. Setelah memarkirkan kendaraan, kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri selang air di pinggir sungai. Menurut warga selang tersebut mengarah ke Jurug Dringo. Ternyata benar, tak seberapa lama kami menyusuri selang, kami tiba di Jurug Dringo.

air terjun jurug dringoCurug tapi Jurug Dringo

jurug dringoWah keren. Jurugnya masih alami dan dikelilingan vegetasi yang rapat. Bagian tebing atas jurug dihiasi oleh rerumputan, sedangkan bagian bawahnya  adalah formasi batuan yang solid. Setelah diliat-liat kok sepertinya ini mirip dengan Air Terjun Umbul Baros ya?? Coba deh kita bandingin 😀

air terjun dringo blitarumbul baros panggungrejo

Perbandingan Jurug Dringo dengan Umbul Baros

Seru juga liburan kali ini. Tak disangka liburan yang awalnya biasa-biasa saja, kini berubah menjadi petualangan yang luar biasa. Oke mungkin cukup sekian perjalanan kali ini. Jurug Dringo telah terdokumentasikan. Saatnya memperkenalkannya ke antero Blitar.

travellers at jurug dringo


Writer : Upheeck

Photographer : Upheeck

Participant: Upheeck, Munawar Afandi

4 Comments

  1. maaf mas. setelah pertigaan pasar ngeni itu ambil kanan.. setelah itu sampai mana lagi mas….sampai sd ngeni 8 kah ??

  2. Wah gak liat2 ada sekolahan apa enggak.. hehehehe

  3. Pasar Ngeni ke kanan. Lurus trs aja, abaikan pertigaan. Ikuti jalan aspal trs sampai habis ganti jalan beton cor. Ikuti jalan cor sampai perkampungan terakhir. Dukuh Kedung Kudi.

  4. benar … air curug dringo dan umbul baros koq bisa kembar ya … 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *