Skip to content

Ekspedisi Bumi Reco Pentung at Night

Tidaklah berlebihan jika Tulungagung dijuluki sebagai Bumi Reco Pentung. Sebab beragam arca Reco Pentung dengan berbagai keunikannya telah ditemukan di kabupaten ini. Bahkan beberapa di antaranya tampak menghiasi sudut pusat Tulungagung dari empat arah berbeda, yakni dari arah Blitar, Boyolangu, Kediri, dan Trenggalek. Arca-arca yang tercatat dalam INVENTARISASI BENDA CAGAR BUDAYA TIDAK BERGERAK DI KABUPATEN TULUNGAGUNG sebagai Situs Reco Pentung ini, secara keseluruhan berjumlah empat pasang dan masing-masing pasang tersebar di empat desa berbeda, yakni di Desa Jepun, Kedungwaru, Kutoanyar, dan Tamanan.

Meski berada di antara hiruk pikuk jalan raya, arca-arca tersebut tetap menyimpan kisah mistis seperti halnya tinggalan-tingglan klasik lain.  Konon beberapa dari arca Reco Pentung ini tidak dapat diabadikan dengan kamera (gambar yang dihasilkan tidak baik/ blur). Malangnya kabar ini baru kami ketahui, saat secara sengaja menyambangi ke empat pasang arca tersebut pada Kamis 18 Agustus 2011 kemarin. Hampir disetiap kami mengambil gambar, warga setempat selalu menanyai dan menceritakan hal yang serupa. Kisah-kisah tersebut sungguh memperberat perjalanan kami, apa lagi perjalanan ini kami lakukan di malam hari.

Syukurlah, apa yang dikisahkan oleh masyarakat setempat tidak terjadi pada kami. Dan kami pun dapat mengabadikan seluruh arca Reco Pentung tanpa mengalami kendala.

Reco Pentung Jepun di dekat eks PR Retjo Pentung

Reco Pentung Kedungwaru dengan wajah yang sedikit menengok

Reco Pentung Kutoanyar di barat Jembatan Lembu Peteng

Reco Pentung Tamanan dengan sebelah kaki ditekuk ke depan

Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengenai asal muasal arca Reco Pentung di ke empat desa tersebut. Menurut warga yang kami jumpai, arca-arca itu telah ada sejak dulu, tetapi posisi awalnya berada di atas permukaan tanah. Kemudian oleh PR Retjo Pentung, arca-arca tersebut diletakkan di atas lapik semen dan dicat.

Arca Reco Pentung secara lazim disebut Dwarapala, fungsinya adalah menjaga gerbang masuk suatu tempat suci atau tempat penting. Dwarapala digambarkan dalam posisi siaga dengan kaki kiri ditekuk sedangkan kaki kanan dalam posisi jongkok. Matanya melotot dan mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi-gigi yang tajam. Kedua tangannya memegang senjata masing -masing berupa gada dan upavita. Gada dianggap sebagai salah satu atribut atau simbol penghancur kegelapan yang mengancam. Ditinjau dari fungsi dan penggambaranya, dapat ditarik sebuah hipotesa sebagai berikut: Jika sejak awal posisi arca-arca tersebut tidak berubah, sangat mungkin bahwa lingkungan diantara ke empat arca tersebut merupakan tempat yang penting di era Tulungagung kuno.


Writer : Galy Hardyta

Sumber :

  • INVENTARISASI BENDA CAGAR BUDAYA TIDAK BERGERAK DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
  • Keterangan Museum Daerah Tulungagung

Participant : Galy, Kcing

4 Comments

  1. akhirnya ada jg yang memngaploud dan membahas arca ini.. sempat penasaran juga bentuknya…

  2. Hm, makanya mas Niko jalan2 aja ke Jawa Timur
    Bentar lagi kan ujian kelar,ya sempetin waktu saja ^^

    Ngomong2,
    Ko fotonya malem2 ,aya2 wae 😀
    an lebih jelas kalo siang 😀

  3. nah betul kata mas pein..
    😀
    ya cari suasana yang beda hehehe…
    😛

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *