Skip to content

Candi Tegowangi, Peninggalan Majapahit di Kediri

Wilayah Kediri masa kini dulunya merupakan ranah inti dari Kerajaan Kadhiri. Meskipun demikian tidak semua peninggalan sejarah yang ada di Kediri adalah peninggalan dari Kerajaan Kadhiri. Candi Tegowangi adalah salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di wilayah Kediri.

Secara administratif Candi Tegowangi terletak di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Plemahan, Kab. Kediri. Candi ini dapat dituju dari beberapa arah. Dari Blitar, Jombang, Malang para traveler sekalian dapat melewati rute: Alun alun Pare ke barat (Jl. Jendral Sudirman) lurus saja sekitar 5,5 km hingga menjumpai SDN Tegowangi di kanan jalan; Dari pertigaan SDN Tegowangi silahkan berbelok ke kanan dan sampailah di Candi Tegowangi. Jika dari Kediri, traveler sekalian bisa beracuan dari Simpang Lima Gumul; Ambil arah Pare, Jombang/ Malang (Jl. Erlangga); Ikuti jalan raya (±15 km) hingga sampai di Monumen Garuda Pancasila kemudian belok ke kiri sejauh 2,9 km hingga di SDN Tegowangi; Candi Tegowangi hanya berjarak sekitar 1,5 km dari SD tersebut.

Candi Tegowangi pertama kali dilaporkan secara tertulis oleh N.W. Hoepermans, kemudian R.D.M. Verbeek, J. Knebel (1902), dan P.J. Perquin (1915).

Candi Perwara (candi pendamping)

Candi Tegowangi menghadap ke barat, terbuat dari batu andesit. Keadaan candi ini telah runtuh dan hanya menyisakan bagian kaki candi saja. Bangunan yang bisa kalian lihat saat ini merupakan hasil pemugaran pada tahun 1983 sampai 1984. Meski telah runtuh, sisa kemegahan candi ini masih dapat dinikmati dari reliefnya. Relief pada Candi Tegowangi terletak pada dinding kaki candi menceritakan Kisah Sudamala. Relief tersebut belum sepenuhnya terselesaikan, baru separuh sisi barat, sisi selatan, dan sisi timur yang terpahat. Bagian akhir Kisah Sudamala yang seharusnya berada pada dinding utara dan barat belum terpahat.

Sebelah kiri menunjukkan sisi candi yang telah dipahat, sisi kanan menunjukkan sisi candi yang belum selesai dipahat.

Sudamala mengisahkan tentang Bhatari Durga dan para Pandawa. Kisah ini berawal saat Kunti menghadap Bhatari Durga di Kuburan Setra Gandamayu, untuk meminta meminta perlindungan agar para Pandawa selamat dalam perang Bharatayuddha karena dua raksasa sakti Kalantaka dan Kalanjaya membantu Kurawa. Durga setuju asalkan Sadewa (bungsu Pandawa) diberikan padanya. Awalnya Kunti tidak setuju namun karena dirasuki oleh Kalika, akhirnya Kunti menyerahkan Sadewa. Durga meminta agar dirinya diruwat Sadewa. Dengan bantuan Bhatara Guru yang masuk ke dalam tubuh Sadewa, Durga berhasil diruat dan kembali menjadi Dewi Uma/ Parwati yang berparas cantik. Sebagai tanda terimakasih, Sadewa dinikahkan dengan anak anak Pendeta Tambrapetra. Kisah ini pada Candi Tegowangi dapat dibaca secara praswaya (berlawanan arah jarum jam).

Relief candi dengan penggambaran tokoh tokohnya seperti wayang menunjukkan corak khas Majapahit

Mengamati Kisah Sudamala

Berdasarkan kisah Sudamala yang mengisahkan tentang dewa dewa Hindu, diduga Candi Tegowangi bercorak agama Hindu. Hal ini juga didukung dengan keberadaan Yoni pada bilik candi. Ada pula yoni lain yang sekarang ditata berjajar dengan batu batu reruntuhan candi yang tidak dapat dikembalikan ke posisi awalnya. Yoni merupakan penggambaran Dewi Parwati, biasanya merupakan satu kesatuan dengan Lingga (Lambang Bhatara Guru/ Dewa Siwa) yang menggambarkan penciptaan dalam agama Hindu.

Yoni di bilik candi

Sementara itu, meski telah diketahui bahwa Candi Tegowangi didirikan pada masa Majapahit, namun kapan tahun pendiriannya masih menjadi kajian para ahli. Dalam Nagarakrtagama Tegowangi pernah disebutkan namun merupakan nama daerah bukan nama bangunan suci. Berikut kutipan Nagarakrtagama pada pupuh 82 yang menyebutkan Tegowangi:

an mangka lwir nikan bhumi jawa ri panadeg/ cri natha siniwi, nora sandeha ri twasniran umulahaken/ kirttyanukani rat,tkwan/ cri natha karwamwan i hajin agawe saddarmma kucala mwan penan/ cri narendra pranuha tumut i buddi cri narapati.

cri nathe sinhasaryyanaruka ri sagada darmma parimita, cri nathen wenker in curabhana pasuruhan lawan tan i pajan, buddadistana tekan rawa ri kapulunan/ mwan locanapura, cri nathe watsarikan tigawani magawe tusten para jana.

Alih bahasa:

Demikianlah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata. Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat Sri Paduka menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma. Serta Bibi Baginda patuh mengikuti niat Baginda Raja.

Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan Sri Paduka sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.

Pendapat populer menyatakan bahwa Candi Tegowangi didirikan untuk pendharmaan Bhre Matahun (kerabat Hayam Wuruk) yang meninggal pada tahun 1388 M, namun pendiriannya sudah berlangsung sejak tahun 1358 M. Pendapat ini tidak termuat secara gamblang dalam Nagarakrtagama, namun berasal dari penafsiran ahli. Sekali lagi kapan tepatnya Candi Tegowangi didirikan masih menjadi kajian para ahli.


Writer: Riezta Aditya H. (Kcing)

Sumber:

  • Sedyawati E., Hariani S., Hasan D., Ratnaesih M., Wiwin D. Sudjana R., dan Chaidir A. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Participant: Galy, Kcing, Meitika

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *