Skip to content

Candi Plumbangan, Gerbang Lintas Waktu dari Desa Plumbangan Blitar

candi plumbangan blitarCandi Plumbangan secara administratif terletak di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kab. Blitar. Letak candi ini sebenarnya tak terlalu jauh dari Kawedanan Wlingi. Berikut rute menuju Candi Plumbangan dari Kawedanan Wlingi: dari kawedanan menuju Jl. Hayam Wuruk – selanjutnya perhatikan plang petunjuk arah Doko, ikuti arah yang ditunjukkan – ikuti Jl Anusapati yang berkelok-kelok hingga sampai pada gapura selamat datang Desa Plumbangan – dari situ ikuti arah yang ditunjukkan plang Candi Plumbangan. Lokasi candinya berada di tengah pemukiman penduduk dan dikelilingi jalan desa.

Plumbangan sebenarnya kurang tepat disebut sebagai candi. Istilah candi dalam kasus ini hanyalah etimologi umum untuk menyebut bangunan apa pun yang berasal dari masa klasik. Candi Plumbangan sendiri sebenarnya merupakan sebuah gapura bergaya paduraksa (atap menyatu). Candi ini pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans saat berkunjung ke Wlingi. Mula-mula ia mengira bahwa struktur gapura ini merupakan reruntuhan candi. Ketika de Haan mengunjungi Candi Plumbangan pada tahun 1920, bangunannya sudah runtuh, kemudian pada tahun 1921 diadakan lah restorasi.

Gapura Plumbangan tersusun dari batu andesit, menghadap ke arah barat. Di sisi utara dan selatan harusnya terdapat tembok keliling yang bersambung dengan struktur gapura tersebut. Sayangnya sisa-sisa tembok itu tidak dapat direkonstruksi karena telah hilang. Dari sisi arsitektekturnya, Gapura Plumbangan ini sangat lah sederhana. Bagian tubuhnya terdiri dari bidang rata dengan pigura tanpa hiasan. Atapnya tersusun atas pelipit-pelipit horizontal. Di bawah atap atau di atas ambang pintu terdapat angka tahun yang bertarikh 1312 Saka (1390 M).

angka tahun candi plumbanganBerdasarkan angka tahun yang termuat, diketahui bahwa Candi Plumbangan berasal dari era Kerajaan Majapahit, bertepatan dengan periode awal pemerintahan Wikramawardhana.

plumbangan templeDirunut dari fungsinya, gapura paduraksa bisa berfungsi sebagai media ruwatan, bisa juga sebagai pembatas ruang dalam suatu komplek bangunan tertentu.

Selain struktur gapura, pada kawasan Candi Plumbangan dijumpai pula tinggalan lepas berupa batu candi, Prasasti Panumbangan, dan yoni. Meski dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java, disebutkan bahwa candi Plumbangan berkaitan dengan sebuah tempat suci Budha, namun beberapa tinggalan lepasnya justru bercorak Hindu. Salah satunya adalah yoni yang merupakan simbol Dewi Parwati, salah satu dewa dalam agama Hindu. Keberadaan atribut Hindu dan Budha pada suatu bangunan candi di Jawa Timur sebenarnya tidak terlalu mengherankan, sebab dalam perkembangannya memang terjadi sinkretisme Siwa-Budha yang mencapai puncaknya sejak masa Singhasari.

yoni plumbanganYoni pada Candi Plumbangan memiliki ragam hias yang unik, di mana bagian ceratnya berbentuk makara yang disangga seekor singa.

bcb plumbanganBenda Cagar Budaya lainnya yang berada di kawasan Candi Plumbangan.

Yang tak kalah penting dan menarik di kawasan Candi Plumbangan adalah keberadaan Prasasti Panumbangan. Adapun alih aksara dari Prasasti Panumbangan adalah sebagai berikut:

  1. || o I swast(i) cakawa(r)sat(ï)ta 1042 crawanamasa tithi sast(i) cuklapaksa wu po ca (?) niwuguwagu grahacara | stha swatinaksa |

  2. tra pawanadewata bajrayoga wanijakarana caciparwweca bayabyamandala irika diwasa ny ajna crï maharaja rake sirika | n crï paramecwara |

  3. sakalabhuwanatustikarananiwaryyawïryya parakrama digjayottnnggadewa umingsor i tanda rakryan ri pakirakiran makadi rakryan | kanuruhan mpu bapra |

  4. k(e)cwara matanggalaksanananaparakrama mwang mpungku caiwasogata makamanggalya rakryan makamantrï kalih i halu i rangga sambandha ikang rama | lima düwan i panumba |

  5. ngan i dalem thani samagëgö galar i pasamayan humatur mamp(u) akampak manambah i lbü ni paduka frï maharaja makasopana samgat tirwan mpu awaryyanta |

  6. cwara majar yan hana kmitanya pracasti munggw(ing) ripta anugraha haji dewata sa(ng) lumah ri ka pada kunang narddhala ri hinëp nikaug rama lima | düwan i dalm thanï panu j

  7. mbangan samagëgö galar i pasamayan i kaswatantranya matangnyan humatur manambah i lbü ni paduka crï maharaja mahyang imbuhanyanugraha sangkari | huminga paduka frl ma |

  8. haraja ri pa(ng) hyang ikang rama lima düwan i panumbangan i dalm thani samagëgö galar i pasamayan matangnyan turun anugraha paduka crï maharaja sang hya | ng ajna haji prafasti ma |

  9. paknatmaraksanya tka ri dlaha ning dlaha pratisthakna ri linggopala myawasthakna pagëhnyan rama swatantranalaga nya wnangapalangka bin(u) | but asaharanawla |

  10. palunganarangkëp atutupa banantën wnangaringringa banantën wnangalësunga kuning wnangasusuna salö wnangomah apapan abalaya

| tigahamba i ma l

Ringkasan tafsir dari Prasasti Panumbangan adalah sebagai berikut:

Pada 2 Agustus 1120 M Maharaja Bameswara mengeluarkan prasasti tentang permohonan penduduk Desa Panumbangan, agar piagam yang tertulis di atas daun lontar ditulis ulang pada batu. Prasasti tersebut berisi penetapan sima swatantra oleh raja sebelumnya yang dimakamkan di Gajapada.

prasasti panumbanganDesa Plumbangan diyakini sebagai Desa Panumbangan yang disebut dalam Prasasti Panumbangan.

Ditinjau dari kurun waktunya, Prasasti Panumbangan justru berasal dari masa yang jauh lebih tua dibandingkan dengan Candi Plumbangan. Prasasti ini diresmikan pada tahun 1042 Saka atau 1120 M di masa pemerintahan Bameswara dari Kerajaan Kadhiri. Candi Plumbangan 1390 M sedangakan Prasasti Panumbangan 1120 M, antara ke duanya terpaut 270 tahun. Benar-benar menarik.

Prasasti atau piagam memang dianggap sebagai benda pusaka, sehingga keberadaanya terus dipertahankan secara turun temurun. Bahkan jika rusak, masyarakat atau pihak yang mewarisi prasasti tersebut dapat mengajukan perbaikan kepada raja yang memerintah, meski sudah beda zaman. Kemungkinan isi Prasasti Panumbangan masih relevan dengan keadaan di masa Majapahit, sehingga keberadaannya tetap dipertahankan berada di sekitar Candi Plumbangan.

candi plumbanganSepertinya tidak berlebihan jika Candi Plumbangan disebut sebagai gerbang lintas waktu. Memang nyatanya benda-benda cagar budaya di kawasan ini berasal dari kurun waktu yang berdeda-beda. Mengunjungi Candi Plumbangan, kita seakan dibawa berpindah-pindah dimensi waktu, dari era kekinian menuju era Majapahit bahkan hingga era Kadhiri. Dari saat Desa ini sudah bernama Plumbangan hingga saat masih disebut dengan nama Panumbangan. Dan gapura itu membuat imaji ini terasa nyata.


Writer: Galy Hardyta

Photographer: A. M. Kusumawardhani

Sumber:

  • Oud=Javaansche Oorkonden
  • Sejarah Daerah Jawa Timur, dtebitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java

Participant: Galy, Meitika

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *