Skip to content

Candi Plumbangan, Gerbang Lintas Waktu dari Desa Plumbangan Blitar

candi plumbangan blitar

Candi Plumbangan.

Plumbangan sebenarnya kurang tepat disebut sebagai candi. Istilah candi dalam kasus ini hanyalah etimologi umum untuk menyebut bangunan atau struktur dari masa klasik, baik yang bersifat sakral maupun profan. Candi Plumbangan sendiri sebenarnya merupakan sebuah gapura bergaya paduraksa (gapura dengan atap menyatu).

Lokasi dan Rute

Candi Plumbangan secara administratif terletak di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kab. Blitar. Letak candi ini tak terlalu jauh dari Kawedanan Wlingi. Dari kawedanan silakan menuju Jl. Hayam Wuruk, selanjutnya perhatikan papan petunjuk arah menuju Doko, kemudian ikuti arah yang ditunjukkan. Ikuti Jl. Anusapati yang berkelok-kelok hingga sampai pada gapura selamat datang Desa Plumbangan, kemudian ikuti arah yang ditunjukkan papan petunjuk arah Candi Plumbangan. Lokasi Candi Plumbangan berada di tengah pemukiman penduduk dan dikelilingi jalan desa. Koordinat candi pada map dapat dilihat di sini.

Deskripsi Candi

Candi Plumbangan menghadap ke arah barat. Candi ini merupakan sruktur gapura paduraksa yang tersusun dari batu andesit, dengan ukuran panjang bangunan 4.50 m, lebar 2.40 m dan tinggi 5.60 m. Dari sisi arsitekturnya, Gapura Plumbangan ini sangatlah sederhana. Pada bagian pintu gerbang tidak terpahatkan relief tetapi hanya berupa pelipit-pelipit garis saja. Pada bagian ambang pintunya terdapat pahatan angka tahun 1312 Saka (1390 M). Sedangkan bagian kemuncaknya berbentuk kubus.

plumbangan temple

Candi Plumbangan terkadang disebut pula dengan nama Candi Watu Lawang.

Selain gapura, pada kawasan Candi Plumbangan dijumpai pula tinggalan lepas berupa batu candi, yoni, dan Prasasti Panumbangan. Yoni pada Candi Plumbangan memiliki ragam hias yang unik, di mana bagian ceratnya berbentuk makara yang disangga seekor singa.

yoni plumbanganYoni pada Candi Plumbangan memiliki ragam hias yang unik, di mana bagian ceratnya berbentuk makara yang disangga seekor singa.

bcb plumbanganBenda Cagar Budaya lainnya yang berada di kawasan Candi Plumbangan.

Riwayat Pelestarian

Candi Plumbangan pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans dalam Hindoe-oudheden van Java (1864 – 1867). Selanjutnya Knebel mengunjungi dan mendata Candi Plumbangan yang kemudian dilaporkan ke dalam ROC tahun 1908. Alih aksara dari Prasasti Panumbangan di lingkungan Candi Plumbangan dibuat oleh Brandes diterbitkan dalam OJO tahun 1913 oleh Krom. Dalam OJO angka tahun Prasasti Panumbangan terbaca 1062 Saka namun dikoreksi oleh Damais dalam Etudes d’epigraphie Indonesienne menjadi 1042 Saka.

Ketika de Haan mengunjungi Candi Plumbangan pada tahun 1920, candi sudah dalam keadaan runtuh, kemudian pada tahun 1921 dilakukan restorasi. SPSP (sekarang BPCB) Jawa Timur pada tahun 1995 telah melakukan kegiatan inventarisasi dan registrasi pada Candi Plumbangan dengan nomer inventaris 185/BLT/1995.

Sejarah

angka tahun candi plumbangan

Inskripsi 1312 Saka pada ambang pintu candi.

Berdasarkan angka tahun 1312 Saka (1390 M) yang terpahat pada ambang pintu, diketahui bahwa Candi Plumbangan berasal dari era Kerajaan Majapahit, bertepatan dengan periode awal pemerintahan Raja Wikramawardhana (Bhra hyang Wisesa). Di sisi lain Prasasti Panumbangan yang berada di lingkungan Candi Plumbangan merupakan prasasti dari era yang lebih tua, yakni dari era Kerajaan Kadhiri. Prasasti Panumbangan dianugerahkan oleh Raja Bameswara pada tahun 1042 Saka (1120 M) kepada penduduk Desa Panumbangan. Berikut alih aksara dari Prasasti Panumbangan bagian depan baris 1 sampai 9:

  1. ||o|| swasti(i) çakawa(r)sat(i)ta 1042 çrawanamasa tithi sast(i) çuklapaksa wu po ca (?) niwuguwagu grahacara | stha swatinaksa |

  2. tra pawanadewata bajrayoga wanijakarana çaçiparwweça bayabyaman-d?ala irika diwasa ny ajna çri maharaja rake siraka | n çri parame-çwara |

  3. sakalabhuanatustikarananiwaryywiryya parakrama digjayottunggadewa umingsor i tan?d?a rakryan ri pakirankiran makadi rakryan / kanu-ruhan mpu bapra |

  4. k(e)çwara matamanggalaksanananaparakrama mwang mpungku çaiwasogatamakamanggalya rakryan mahamantri kalih i halu i rangga sambandhaikang rama | lima duwan i panumba |

  5. nga i dalem thani samagego galar i pasamayan humatur mamp(u)akampak manambah i Ibu ni paduka çri maharaja makasopana samgattirwan mpu | awaryyanta |

  6. çwara majar yan hana kmitanya praçasti munggw(ing) ripta anugrahahaji dewata sa(ng) lumah ri ka pada kunang narddhalari hinep rama lima | duwan i dalm thani panu |

  7. mbangan samagego galar pasamayan i kaswatantranya matangnyanhumatur manambah i Ibu ni paduka cri maharaja mahyang imbuhanya-nugraha sangkari | humingga paduka çri ma |

  8. haraja ri pa(ng) hyang ikang rama lima duwan i panumbangan i dalmthani samagego galar i pasamayan matangnyan turun anugraha padukaçri maharaja sang hya | ng ajna haji praçasti ma |

  9. paknatmaraksanya tka ri dlaha ning dlaha pratisthakna ri linggopalamyawasthakna pagehnya rama swatantranalaga nya wnanga-palangka bin(u) | but asaharanawla |

Ringkasan tafsir dari Prasasti Panumbangan adalah sebagai berikut: Pada 02 Agustus 1120 M Raja Bameswara menganugerahkan penetapan kembali Desa Panumbangan sebagai desa sima dalam bentuk prasasti batu (linggopala). Penetapan ini berdasarkan keputusan raja terdahulu yang pernah diberikan kepada penduduk Desa Panumbangan dalam bentuk prasasti lontar (prasasti ripta). Pada Prasasti Panumbangan terdapat lancana Raja Bameswara berupa candrakapala (tengkorak menggigit bulan).

Ditinjau dari kurun waktunya, Prasasti Panumbangan berasal dari masa yang jauh lebih tua dibandingkan dengan Candi Plumbangan. Prasasti ini diresmikan pada tahun 1120 M saat periode pemerintahan Bameswara dari Kerajaan Kadhiri, sedangkan Candi Plumbangan diresmikan pada tahun 1390 M, bertepatan dengan periode awal pemerintahan Wikramawardhana dari Kerajaan Majapahit. Antara ke prasasti dan candi ini terpaut rentang waktu 270 tahun. Benar-benar menarik.

Prasasti atau piagam memang dianggap sebagai benda pusaka, sehingga keberadaannya terus dipertahankan secara turun temurun. Bahkan jika rusak, masyarakat atau pihak yang mewarisi prasasti tersebut dapat mengajukan perbaikan kepada raja yang memerintah, meski sudah beda zaman. Kemungkinan isi Prasasti Panumbangan masih relevan dengan keadaan di masa Majapahit, sehingga keberadaannya tetap dipertahankan berada di sekitar Candi Plumbangan.

Candi Plumbangan, Gerbang Lintas Waktu dari Desa Plumbangan Blitar 2

Prasasti Panumbangan.

Di Petung Ombo Garum pernah ditemukan prasasti lain yang juga disebut Prasasti Penumbangan. Untuk membedakan keduanya, maka Prasasti yang ada di pelataran Candi Plumbangan disebut Prasasti Panumbangan I dan prasasti yang berasal dari Petung Ombo disebut Prasasti Panumbangan II.

Toponim Plumbangan juga dapat ditelusuri dari Kitab Nagarakrtagama atau Kakawin Desa Warnana pupuh 77. Berikut kutipannya:

nahan muwah kasugatan/ kabajradaran akrameka wuwusen, i sakabajra ri nadi tada mwan i mukuh ri samban i taju?, lawan tan amrtasabha ri ba?baniri boddi mula waharu, tampak/ duri pareuha tandare kumudaratna nandinagara. len ta? wunañjaya palandit ankil asah i? samicyapitahen, nairañjane wijayawaktra magnen i poyahan/ bala masin, ri krat lemah tulis i ratnapankaja panumbanan kahuripan, mwa? ketaki talaga jambale junul i wisnuwala pameweh.

Artinya:

Selanjutnya tersebut berturut-turut ikut kebudaan bajradara Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tajung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu tampak dari Puruhan dan Tadara. Tiada terlupakanlah Kumuda, Ratna serta Nandinagara. Wungajaya, Balandi, Tangkil, Asahing, Samici dengan Acitahen Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Poyahan dan Balamasin, Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaja, Panumbangan serta Kahuripan Ketaki, Telaga Jambala, Junggul ditambah lagi Wisnuwala.

Berdasarkan kutipan dari Desa Warnana ini diketahui bahwa Panumbangan masuk dalam wilayah perdikan penganut Buddha Bajradhara.

. . .

candi plumbangan

Gapura Plumbangan.

Sepertinya tidak berlebihan jika Candi Plumbangan disebut sebagai gerbang lintas waktu. Memang nyatanya benda-benda cagar budaya di kawasan ini berasal dari kurun waktu yang berbeda-beda. Mengunjungi Candi Plumbangan serasa membawa kita berpindah-pindah dimensi waktu, dari era kekinian menuju era Majapahit bahkan hingga era Kadhiri. Dari saat Desa ini sudah bernama Plumbangan hingga saat masih disebut dengan nama Panumbangan. Gapura kuna itu benar-benar membuat imaji ini terasa nyata.


Writer: Galy Hardyta

Photographer: A. M. Kusumawardhani

Sumber:

  • Kakawin Desawarnana
  • Etudes d’epigraphie Indonesienne
  • Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC)
  • Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD)
  • Oud Javaansche Oorkonden
  • Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java

Participant: Galy, Meitika

One Comment

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!