Skip to content

Berburu Ketenangan di Padepokan Retjo Sewu dan Pantai Coro

Langkah kami untuk mencari ketenangan akhirnya sampai di kawasan Teluk Popoh, Kabupaten Tulungagung. Namun tujuan kami bukanlah ke teluk yang terkenal itu, melainkan untuk menyambangi sebuah padepokan dan pantai kecil di timurnya. Meski dibalut nama ”padepokan” tapi tempat yang kami sambangi ini memanglah tujuan wisata. Padepokan tersebut adalah Padepokan Retjo Sewu. Sedangkan pantai yang kami sambangi adalah Pantai Coro, pantai cilik nan indah, namun memiliki arti nama yang WAW.. 😯 Mau tau bagaimana menenangkannya tempat-tempat tersebut?? Simak ulasan berikut.

Padepokan Retjo Sewu

Ini bukan padepokan silat lho ya.. 😛 Padepokan Retjoo Sewu  adalah padepokan yang dibangun Soemiran Karsodiwiryo, pemilik PR Retjo Pentung pada tahun 1993. Padepokan ini dijadikan tempat peristirahatan sekaligus makam keluarga. Padepokan ini berlokasi di Desa Gerbo Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung, dan memiliki luas sekitar tiga hektar. Kini padepokan ini sepi aktifitas. Hal ini dikarenakan saat Soemiran meninggal pada tahun 1997, pabrik rokok yang menopang pembiayaan Retjo Sewu mengalami kemunduran.

Kesempatan yang sepi membuat kami leluasa untuk mengamati dan mendokumentasikan setiap sudut padepokan ini.

Terhitung sekitar 2.999 reco (arca) berukuran kecil hingga besar terdapat di kawasan ini. Semua bentuk reconya sama, yakni berwujud dwarapala (raksasa bertaring yang memegang gada).

Dari segi mitologi, dwarapala tergolong dalam makluk mitologi Hindu-Budha. Dwarapala bisanya diletakkan di sekitar bangunan suci untuk menangkal hal-hal jahat yang mengancam. Nah.. gimana ndak tenang kalo disini dwarapalanya ada 2.999 buah. Hehehe

Setelah hari agak siang tempat ini semakin ramai. Pengunjung yang datang biasanya berasal dari pengunjung Pantai Popoh yang mampir untuk beristirahat. Karena sudah mulai ramai, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menyepi ke Pantai Coro.

Pantai Coro

Pantai Coro berada 1,5 km di sebelah timur padepokan Retjo Sewu. Untuk menuju pantai ini, kami harus berjalan naik turun bukit sekitar 30 menitan. Capek sih.. tapi demi berburu ketenangan, itu semua tidak kami risaukan. Setelah berjalan sekian waktu, akhirnya keelokan dan ketenangan Pantai Coro dapat kami jajaki.

Pantai ini memiliki pasir pantai berwarna putih dan air laut yang jernih. Susana pantai ini masih tergolong alami dengan background vegetasi yang cukup lebat. Ombaknya tenang, setenang suasana pantai ini.

Sebenarnya sedikit tergelitik juga dengan nama pantai ini yang berarti kecoak. Setelah usut punya usut, diketahuilah sebuah mitos. Konon waktu pertama kali ditemukan, pantai ini banyak kecoaknya. Namun tenang saja untuk yang tidak suka kecoak, tidak usah takut ke pantai ini (nyindir Koje) :twisted:. Pantai ini sudah bersih dari kecoak, dan sebagai gantinya, view indah teluk Popoh dapat dinikmati dari sini.

Sungguh menyenangkan dapat melewati hari dipantai ini. Setelah kami memutuskan untuk menutup perjalanan, yang tersisa tinggalah ketenangan di hati.


Writer   : A. M. Kusumawardhani & Galy Hardyta

Revisi terakhir : Oktober 2012

Sumber :

  • http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829628cb8225bc8ec9f86772d9d6da93b3084
  • http://tulungalaygung.blogspot.com/2011/11/pantai-coro.html

Participant : Galy, Kcing, Meitika, Lia

4 Comments

  1. adi adi

    spedanya di parkir di mana sob kalo mau ke pantai?

  2. travellers2009 travellers2009

    di selatan reco sewu saja mas.. aman dan ada yang mengelola.. 🙂
    tinggal jalan kaki kira-kira 2 km

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *