Skip to content

Air Terjun Coban Wilis Blitar, Legenda dari Lereng Selatan Kelud

Air Terjun Coban Wilis mungkin sudah sedikit dikenal di kalangan masyarakat Blitar. Air terjun ini sebenarnya terletak  tak jauh dari Kampung Wisata Ekologi Puspa Jagad, Desa Semen, Kec. Gandusari. Dari KWE tinggal meneruskan perjalanan hingga ke Patok Wesi, kemudian berjalan kaki mengikuti jalan setapak di igir gunung sejauh 7 km. Sayang sekali pasca erupsi Gunung Kelud tahun 2014, akses turun menuju lokasi air terjun hancur.

Air Terjun Coban Wilis terletak di hulu Kali Semut. Alternatif untuk menuju lokasi air terjun adalah dengan menyusuri aliran sungai tersebut dari Desa Soso, Gandusari. Dari Blitar silahkan menuju Wlingi. Pertigaan Rumah Sakit Ngudi Waluyo belok kiri mengikuti rute menuju Ngantang. Kantor Desa Soso lurus sedikit hingga menjumpai percabangan. Ambil arah ke kiri menuju Bendungan Nyunyur/ Blumbang Gede Soso. Dari Blumbang Gede ikuti saja jalur truk pasir hingga tiba di Dam Kali Semut. Kendaraan dapat dititipkan di sana, kemudian perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sekitar tiga jam. Jika ada driver truk yang berbaik hati, kalian bisa numpang hingga lokasi penambangan terakhir.

Berikut DTrav ulas perbandingan antara rute Coban Wilis sebelum dan sesudah erupsi:

Sebelum erupsi perjalanan dapat dilakukan dengan menyuri jalan setapak di igir gunung. Perjalanan ini tergolong berat karena harus naik turun lima bukit. Vegetasinya juga cukup rapat sehingga diperlukan kejelian agar tidak terperosok. Dokumentasi DTrav tahun 2009.

Pasca erupsi akses turun dari igir ke lokasi air terjun longsor oleh arena itu alternatifnya adalah dengan melewati kantong lahar Kali Semut.

Semakin jauh ke Kali Semut.

Semakin menjauhi kantong lahar medannya semakin terjal, namun tetap landai. Jika dibandingkan dengan rute lama, rute susur kali semut ini cenderung lebih enak. Namun menyusuri Kali Semut bukan lah tanpa resiko. Hindari melakukan penyusuran pada musim penghujan karena rawan terjadi lahar dingin.

Estimasi waktu yang diperlukan untuk susur sungai sekitar tiga jam. Mengingat jauhnya rute dan lamanya waktu tempuh, Air Terjun Coban Wilis masih jarang dijamah manusia. Agaknya julukan air terjun legendaris cocok disematkan untuk spot yang satu ini, karena sebenarnya sudah banyak masyarkat yang tau, tapi masih jarang yang sampai sana.

Meski beresiko, menyusuri Kali semut mempunyai benefit tersendiri. Salah satunya adalah kalian akan menjumpai air terjun-air terjun lain yang ada di sekitar Air Terjun Coban Wilis.

Air terjun bertingkat dilihat dari jalur lama Coban Wilis. Dokumentasi DTrav tahun 2009.

Air terjun bertingkat yang sebelumnya hanya bisa dilihat dari seberang bukit, justru dapat dituju dari jalur Kali Semut.

Jika ingin lebih mendekat, kalian dapat melakukan pendakian ringan ke lereng tebing.

Dijumpai pula air terjun yang tak terlihat dari rute lama. Letak air terjun ini sangat dekat dari Air Terjun Coban Wilis.

Dan inilah sang Legendary Water Fall. Air Terjun Coban Wilis. Penampakannya sedikit berbeda dari sebelum dan sesudah erupsi tahun 2014. Pasca erupsi tampak sejumlah longsoran ada di sekitaran air terjun. Vegetasi yang dulunya menyelimuti tebing juga tampak berkurang.

Penampakan Air Terjun Coban Wilis

Penampakan Air Terjun Coban Wilis sebelum erupsi tahun 2014. Dokumentasi DTrav tahun 2009.

Demikianlah sedikit ulasan dari kami mengenai Air Terjun Coban Wilis. Sudah Siapkah kalian menyambangi air terjun legendaris ini? Tunggu, lihat cuaca dulu 😀


Writer: Riezta Aditya H. (Kcing)

Participant: Aima, Galy, Kcing, Upeck, Dea, Lintang, Sunu

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *