Skip to content

Pelajaran Berharga Dari Coban Wilis

travellers road to coban wilisLibur panjang sebelum OSPEK membuat kami  jenuh. Di tengah kejenuhan tersebut, kami putuskan saja untuk maen ke air terjun Coban Wilis. Air terjun Coban Wilis adalah air terjun yang berada di aliran Sungai (Kali) Semut Kecamatan Gandusari Blitar.  Lokasinya berada di lembah Gunung Kelud yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Untuk rute selengkapnya menuju air terjun Coban Wilis dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Dengan berbekal informasi minim dari internet kami pun memberanikan diri untuk berangkat, meski kami tidak tau seperti apa medan yang akan kami hadapi nantinya. Kami berkumpul di kediaman Meitika (Sawentar) pada pukul 08.00, dan pada pukul 08.30 kami memulai perjalanan. The Journey Begins. Dari tempat pemberangkatan sampai dengan kawasan Semen, kami tempuh dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih satu setengah jam. Dengan sedikit meraba-raba rute dan bertanya-tanya pada penduduk sekitar, akhirnya kami menemukan rute yang sesuai dengan informasi yang tercantum di internet.

Semakin lama jalanan yang kami lalui semakin menanjak dan berliku. Dan setelah melewati area pemukiman terakhir, jalanan yang kami lalui mulai berpasir. Hal ini mengakibatkan beberapa dari kami mengalami kendala dengan kendaraanya yang slip. Perjalanan menjadi semakin terhambat ketika motor Kecing tiba-tiba mogok, namun tanpa menyerah kami tetap melanjutkan perjalanan.

Karena melihat area di depan tidak memungkinkan lagi untuk dilalui kendaraan bermotor, Koje yang berada di depan rombongan tiba-tiba menghentikan laju kami. Ternyata di depan kami telah menunggu lima buah bukit yang tampaknya cukup terjal untuk dilalui. Tapi itu semua tidak menjadi penghalang bagi kami. Dengan sedikit perundingan kami pun sepakat memarkir kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dengan kebulatan tekat, kami pun menyusuri bukit-bukit tersebut. Vegetasi di bukit pertama cukup lebat, jalan setapak yang kami lalui hampir tidak tampak. Sehingga beberapa dari kami sering terperosok. Di sepanjang perjalanan Nyop berinisiatif untuk menggoreskan tanda-tanda di pepohonan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Menuruni bukit pertama vegetasi pepohonan mulai berkurang dan mulai lebat lagi di bukit ketiga. Perjalanan pun harus kami lanjutkan di bawah teriknya sinar matahari di bukit keempat, dan itu menjadi salah satu masalah bagi kami karena persediaan air yang kami bawa hanya terbatas.

Perbekalan air kami semakin menipis, keputus asaan pun mulai menghinggap. Syukurlah, bersamaan dengan itu air terjun Coban Wilis mulai tampak dari kejauhan. Semangat kami pun berkobar lagi. Dan menuruni bukit keempat tampak pula air terjun lain yang seakan menambah kesemarakan perjalanan kami.

Keputus asaan menghinggap lagi ketika kami tak kunjung menemukan rute untuk menuruni bukit. Perdebatan mulai terjadi. Di tengah suasana yang mulai memanas, tanpa kenal lelah Flo berusaha untuk tetap mencari jalan turun, Galy dan Koje pun turut serta membantunya. Dan betapa gembiranya ketika jalanan yang kami lalui mulai lembab dan berpadas. Akhirnya setelah melewati medan yang cukup terjal, tepat pada pukul 13.30 kami sampai pada klimaks dari perjalanan ini,”Coban Wilis.”

Air Terjun Coban Wilis dikenal juga dengan nama Air Terjun Tirto Jagad

Betapa besar karunia Tuhan, hanya itu yang bisa kami ucapkan. Betapa indah tempat ini, di tengah tebing yang menjulang, tersembunyi jauh dari peradaban manusia. Sungguh indah, sungguh asri, dan sungguh!!!!!! tak terbayangkan keindahannya. Semua letih pun terbayar. ”Aku tak kan beranjak dari tempat ini” celoteh beberapa dari kami. Tapi sayang, kami tak bisa berlama-lama berada di tempat ini. Setelah kiranya kami cukup puas bernarsiss ria dan mengisi persediaan air, tepatnya pada pukul 14.30 kami memutuskan untuk pulang. Kami harus bergegas agar dapat meninggalkan bukit sebelum gelap.

Kepanikan sempat terjadi saat rombongan kami terpecah, Galy, Flo, Meitika, dan Lia yang berada di depan membuat jarak yang cukup jauh dengan Koje cs, tapi sebenarnya hal tersebut lebih disebabkan oleh lebatnya vegetasi sehingga membuat jarak pandang terbatas. Suasana yang semakin gelap, banyaknya percabangan yang membingungkan, dan perbedaan suasana saat perjalanan awal tadi membuat beberapa di antara kami tersesat. Terlebih tanda-tanda yang telah dibuat oleh Nyop tidak nampak di kegelapan. Galy dan Flo yang menyadari bahwa rute yang meraka ambil keliru, mulai panik dan mencoba meneriaki rombongan Koje cs. Syukurlah triakanya terdengar sehingga dapat berkumpul lagi  dan keluar dari bukit bersama-sama. Huft…. Penuh perjuangan 🙂

Pukul 17.00 kami sampai di Patok Wesi (tempat kami memarkirkan kendaraan). Suasana yang semakin gelap membuat kami bergegas melanjutkan perjalanan pulang. Walau sudah semakin dekat dengan jalan utama, tantangan masih sempat menghampiri kami. Jalan yang menanjak pada perjalanan awal, menjadi penghalang terberat saat pulang. Dengan sabar dan hati-hati, akhirnya kami mampu melaluinya.

Setelah mencapai jalan utama kami sepakat untuk mampir ke kedai dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Suasana kebersamaan terasa kental saat itu. Akhirnya pada pukul 19.00 kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Sungguh perjalanan yang tak terlupakan. Kebersamaan dan kebulatan tekat kami diuji di sini. Lagi-lagi alam seolah mendidik dan mengajari kami untuk ulet dan pantang menyerah sebelum mampu meraih asa. Dan sekali lagi alam benar!!


Writer : Galy Hardyta

Editor : A. M. Kusumawardhani

Revisi terakhir : Juni 2011

Participant : Galy, Kecing, Koje, Meitika, Binti, Chuko, Flo, Lia, Nyop, Uliv

17 Comments

  1. Lia Lia

    Banyak pelajran yg didpat dari perjlanan ini,karene ini adalah salah satu dari yang paling mengesankan,,,,
    ^_^

  2. Meitika Meitika

    ada yg salah di ketik nich….
    hehehehehehe

  3. […] ini memang terkenal dengan keindahan panorama alamnya, seperti panorama alam sirah kencong dan cuban wilis yang begitu memukau. Namun jika mau menelusurinya dengan lebih dtail, sebenarnya Kecamatan […]

  4. Ekalaya Ekalaya

    Omahe mbah bedjo ndi kie???

  5. Ini letaknya dimana tho ??

  6. letaknya di lereng gunung kelud..
    di gandusari utara…

  7. bambang bambang

    menurutku jalur ini lebih dekat dicatat ya: dari blitar ambil arah ke wligi kemudian cari jurusan doko trus ke pasar nyawangan, dari pasar nyawangan trus ke desa resep ombo, jalan ini sudah diaspal, dari desa resep ombo jalan masuk tidak diaspal tapi jika ditempuh jalan kaki dari sini kurang lebih hanya 4 km, selamat mencoba

  8. bambang bambang

    jalan setapak dari resap ombo sudah sampai air terjun, krn udah dibuka oleh warga disana. perlu diketahui kata penduduk disini air terjunnya ada tiga dan yg pean datangi itu yang paling tinggi yang dinamakan air terjun ancar sewu oleh penduduk setempat. dibawahnya bukit yang timur masih ada air terjunnya lagi, selamat mencoba mas bro

  9. trimakasih mas informasinya.. tapi ini berbeda lho dengan yang di doko… ini di gandusari mas, di aliran kali semut jadi ndak pakek lewat resap ombo.. hehehe.. 😀

  10. bambang bambang

    pean dah coba yg di resep ombo, kalau yg disana air terjunnya seingat saya persis seperti itu, dan tingginya jg hampir sama

  11. udah mas.. tapi kemarin urung dilanjutin.. 😀
    berangkatnya kesiangan n hujan.. sama penduduknya disaranin buat dateng lain waktu.. hehehe…

  12. bambang bambang

    kapan pean berangkat, aku terakhir ke sana dulu kalo gak salah th 2002, pokok e asyik and met mencoba petualangan ini

  13. bambang bambang

    o ya pesenku nanti kalo dah kesana, mohon cepat diunggah di internet ya, biar banyak diketahui masyarakat

  14. bulan apa ya kemarin?? november sepertinya..
    InsyaAllah besok mei coba kesana lagi…
    siap.. 😀

  15. siap mas.. doakan biar cepet bisa ke sana ya.. 😀

  16. bambang bambang

    sip, kutunggu kabar selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *